<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ma'arif syahed</title>
	<atom:link href="http://maarifsyahed.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://maarifsyahed.wordpress.com</link>
	<description>politik kaum muda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jan 2012 16:26:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='maarifsyahed.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/4176229edbab2ee87d3dc3f430f9bd7b?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>ma'arif syahed</title>
		<link>http://maarifsyahed.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://maarifsyahed.wordpress.com/osd.xml" title="ma&#039;arif syahed" />
	<atom:link rel='hub' href='http://maarifsyahed.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>dosa ombak di Aceh Jaya</title>
		<link>http://maarifsyahed.wordpress.com/2012/01/03/satu-ombak-di-aceh-jaya/</link>
		<comments>http://maarifsyahed.wordpress.com/2012/01/03/satu-ombak-di-aceh-jaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 15:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maarifsyahed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makna Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maarifsyahed.wordpress.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[kehilanganmu terasa seperti setetes air terciprat pada api&#8230; seperti mimpiku pada suatu malam september lalu,  paginya tiba-tiba kau tiada, aku masih teringat ombak yang menyerupaimu pecah menabrak karang Aceh Jaya pada siang dua ribu sembilan itu&#8230; nyatanya aku masih tak dapat mengerti apakah itu dosa dan cinta, pada seribu malam setelahnya,hidung bebek yang kau cat warna [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maarifsyahed.wordpress.com&amp;blog=2233691&amp;post=153&amp;subd=maarifsyahed&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>kehilanganmu terasa seperti setetes air terciprat pada api&#8230;</em></strong><br />
<strong><em>seperti mimpiku pada suatu malam september lalu, </em></strong></p>
<p style="text-align:left;">paginya tiba-tiba kau tiada, aku masih teringat ombak yang menyerupaimu pecah menabrak karang Aceh Jaya pada siang dua ribu sembilan itu&#8230;<span id="more-153"></span></p>
<p>nyatanya aku masih tak dapat mengerti apakah itu dosa dan cinta,</p>
<p>pada seribu malam setelahnya,hidung bebek yang kau cat warna kuning buatanmu semakin nyata pada mimpi yang tak pernah aku pahami&#8230;</p>
<p>yang aku tau aku tak pernah menyesal, sebab aku tak mungkin mengembalikan ombak yang pecah di Aceh Jaya&#8230;  tapi kita akhirnya mengerti satu hal, bahwa kebohongan itu seperti tidak memanusiakan manusia&#8230;</p>
<p>biarlah ombak di Aceh Jaya itu menjadi dosa yang tak pernah aku mengerti&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maarifsyahed.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maarifsyahed.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maarifsyahed.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maarifsyahed.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maarifsyahed.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maarifsyahed.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maarifsyahed.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maarifsyahed.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maarifsyahed.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maarifsyahed.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maarifsyahed.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maarifsyahed.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maarifsyahed.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maarifsyahed.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maarifsyahed.wordpress.com&amp;blog=2233691&amp;post=153&amp;subd=maarifsyahed&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maarifsyahed.wordpress.com/2012/01/03/satu-ombak-di-aceh-jaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b5a9630995a96d0b2e286493c556087?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">maarifsyahed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemerdekaan Yang Hakiki Untuk Aceh</title>
		<link>http://maarifsyahed.wordpress.com/2012/01/03/kemerdekaan-yang-hakiki-untuk-aceh/</link>
		<comments>http://maarifsyahed.wordpress.com/2012/01/03/kemerdekaan-yang-hakiki-untuk-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 09:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maarifsyahed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makna Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maarifsyahed.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[http://irwandi.info/index/detail/berita/149/2012-01 Selasa, 3 Januari 2012 WIT  KANTOR pusat Komite Peralihan Aceh atau KPA berada di tepi jalan Lamdingin, Banda Aceh. Berlantai dua. Di situ dipajang bendera bulan bintang, bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan foto almarhum Abdullah Syafe’i, panglima GAM yang sangat dihormati dan dicintai orang Aceh. Syafe’i gugur ditembak tentara Indonesia pada tahun 2003 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maarifsyahed.wordpress.com&amp;blog=2233691&amp;post=138&amp;subd=maarifsyahed&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align:right;"><strong><em><a href="http://irwandi.info/index/detail/berita/149/2012-01">http://irwandi.info/index/detail/berita/149/2012-01</a></em></strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong><em>Selasa, 3 Januari 2012 WIT </em></strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong><em>KANTOR pusat Komite Peralihan Aceh atau KPA berada di tepi jalan Lamdingin, Banda Aceh. Berlantai dua. Di situ dipajang bendera bulan bintang, bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan foto almarhum Abdullah Syafe’i, panglima GAM yang sangat dihormati dan dicintai orang Aceh. Syafe’i gugur ditembak tentara Indonesia pada tahun 2003 dalam sebuah operasi militer di desa Jiem Jiem, Aceh Utara. </em></strong></p>
<p style="text-align:left;">KPA diketuai Muzakir Manaf, panglima GAM yang menggantikan Tgk. Abdullah Syafe’i. Badan ini jadi wadah untuk bekas panglima dan anggota Teuntara Neugara Aceh (TNA) setelah kesepakatan damai Helsinki ditandatangani. Tanggung jawab KPA antara lain membantu mereka kembali ke kehidupan sipil dan bekerja di masa damai.</p>
<p>Siang itu, 23 November 2006, saya menemui Irwandi Yusuf di salah satu ruang. Rambutnya sudah memutih. Sorot matanya tajam. Perawakannya tidak mirip anggota militer, tapi akademisi.</p>
<p><span id="more-138"></span>Irwandi adalah dokter hewan lulusan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dan pemegang gelar master dalam bidang kedokteran hewan dari Universitas Oregon, Amerika Serikat. Ia bergabung dengan GAM pada 1999 dan jadi penasihat intelijen militer GAM di bawah komando Muzakir Manaf.</p>
<p>“Tapi nanti ada yang off the record juga yah,” selorohnya, ketika saya mengutarakan niat saya untuk mengikuti perjalanan kampanyenya.<br />
Sambil berbincang, ia sibuk memeriksa tinta mesin printer yang baru dikirim dari Jakarta. Ia menjelaskan bahwa kampanyenya dikerjakan orang-orangnya sendiri. Tidak ada pihak luar yang terlibat.</p>
<p>“Kerja saya merangkap. Apa yang bisa dikerjakan, dikerjakan,” katanya. Telepon selulernya terus berbunyi.</p>
<p>Kami akan berangkat ke Pidie tanggal 26 November untuk kampanye pertamanya. Tetapi sebelum tanggal tersebut, saya akan dikabari lagi.</p>
<p>PADA 26 November, pukul enam kurang lima menit, saya tiba di Lamdingin. Ternyata kantor sepi. Padahal Fahlevi, anggota Sentra Informasi Referendum Aceh atau SIRA, yang jadi salah seorang tim sukses Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar, meminta saya datang pukul enam pagi. Nazar, yang jadi pasangan Irwandi dan mencalonkan diri jadi wakil gubernur Aceh juga orang SIRA.</p>
<p>Rumah bertingkat dua tersebut tampak gelap, sama seperti langit pagi buta di atasnya. Saya menunggu, sendirian. Saat jam hampir sampai pada pukul tujuh, Irwandi datang. Ia menyetir mobilnya sendiri dan di sebelahnya duduk seorang perempuan muda, yang kemudian saya ketahui adalah istrinya.</p>
<p>Saya menyapa Irwandi dan istrinya, Darwati. Saya bertanya pada Darwati apakah ia akan ikut serta ke Pidie. “Iya ikut, sekalian mau pulang ke Bireuen,” jawabnya.</p>
<p>Irwandi dan keluarganya memang punya rumah di Bireuen, Aceh Utara, namun sehari-hari ia lebih banyak di Banda Aceh dan mengontrak rumah di kawasan Darussalam.</p>
<p>“Nazar sudah berangkat kemarin malam ke Aceh Selatan,” kata Irwandi menjawab pertanyaan saya tentang kampanye Nazar hari ini.</p>
<p>Ia mulai sibuk dengan telepon selulernya, lalu menemui anggota tim suksesnya di halaman depan. Suasana sedikit kaku karena Irwandi tampak sedikit kesal, mungkin karena banyak anggota tim sukses belum datang.</p>
<p>“Kalau marah, Bang Wandi bisa lebih seram daripada Muzakir Manaf,” kata Nashruddin, tim sukses Irwandi yang baru saja tiba.<br />
Akhirnya kami berangkat ke Pidie pada pukul 07.30. Saya dipersilahkan masuk ke mobil yang dikemudikan Irwandi. Saya duduk di belakang, sedangkan istrinya di kursi depan.</p>
<p>DIIRINGI alunan musik Scarborough Fair, laju mobil cukup kencang, bahkan cenderung ngebut. Melihat kekhawatiran saya, salah seorang tim sukses Irwandi yang duduk di sebelah saya berkata, “Maaf, tapi kami harus mengejar waktu.”</p>
<p>Di tengah perjalanan, mobil berhenti untuk beristirahat sebentar di sebuah rumah kecil milik lembaga swadaya lokal.</p>
<p>“Dulu bapak ikut membantu di sini,” kata Darwati tentang keterlibatan Irwandi di Flora Fauna Indonesia (FFI). Lembaga ini bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup dan Irwandi merupakan salah satu pendirinya.</p>
<p>Menurut jadwal, jam sepuluh seharusnya kami sudah tiba di Pidie. Tetapi beberapa saat sebelum memasuki perbatasan Sigli, mobil mengalami masalah. Asap keluar dari kap depan mobil. Perjalanan harus terhenti sebentar.</p>
<p>Radiator mobil ternyata bocor. Irwandi sendiri yang memeriksa keadaan radiator. Jalanan tempat mobil berhenti sangat lengang, hanya satu dua mobil saja yang lewat. Salah seorang anggota rombongan berkata, “Dulu di sini sering terjadi kontak.” Yang ia maksud adalah kontak senjata antara GAM dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).</p>
<p>“Ya, mudah-mudahan dengan rahmat yang di atas, tetap seperti ini,” lanjutnya, sebelum ia kembali membantu Irwandi. Ia ingin masa damai selamanya.</p>
<p>Ketika rombongan kami sampai di perbatasan Sigli, di sana sudah menunggu massa dan simpatisan Irwandi-Nazar. Jumlah mereka kurang dari 100 orang. Mereka membawa poster dan memasang stiker Sinar (Seramoe Irwandi Nazar) di motor dan mobil mereka. Banyak yang ingin bersalaman dengan Irwandi atau sekadar mengabadikan momen tersebut dengan kamera telepon seluler.</p>
<p>Tepat jam tiga sore, mobil kami sampai di lapangan sepak bola Beureunuen. Podium tempat orasi terlihat sangat sederhana. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Irwandi bahwa dia calon yang paling miskin dalam kampanye.</p>
<p>Panggung terbuat dari kayu yang ditumpuk sejajar dan ditumpu beberapa drum kosong. Atapnya pun hanya terpal plastik dengan bambu sebagai penyangga.</p>
<p>Di lapangan tersebut berkumpul kurang dari seribu orang. Pidie memang bukan basis pendukung Irwandi-Nazar. Daerah tersebut merupakan basis kuat pasangan H2O, sebutan untuk pasangan Humam Hamid dan Hasbi Abdullah, yang merupakan rival utama mereka. H2O calon dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan secara resmi pernah didukung KPA. Dukungan ini diduga karena Hasbi Abdullah tak lain dari saudara kandung Zaini Abdullah, menteri luar negeri GAM di Swedia.</p>
<p>Kampanye disampaikan dalam bahasa Aceh yang saya tidak mengerti, walau ada beberapa kosa kata yang mirip dengan bahasa Indonesia. Walau demikian saya sempat menangkap ucapan Irwandi tentang desas-desus hubungannya dengan Jusuf Kalla.</p>
<p>“Saya tidak menerima uang dari Jusuf Kalla,” katanya, yang disambut dengan tepuk tangan dan riuh massa. Kabar burung mengatakan bahwa kampanye Irwandi-Nazar mendapat sumbangan uang sebesar Rp 5 miliar dari Jusuf Kalla, wakil presiden Indonesia.</p>
<p>Di tempat itu pula saya bertemu dengan anggota tim sukses Irwandi yang lain, Isjkarudin Muda bin Usman. Pertama kali jumpa, ia mengira saya adalah wartawan asing. Perawakan saya seperti orang Jepang, katanya. Setelah saya berbicara dalam bahasa Indonesia, baru ia paham bahwa saya wartawan Indonesia. Isjkarudin adalah pengawal khusus Irwandi, sehingga ia akan selalu satu mobil dengan atasannya itu.</p>
<p>Rombongan kemudian menuju Bireuen untuk beristirahat dan bermalam di sana. Dalam perjalanan pulang, Isjkarudin sering terlihat bercanda dengan Irwandi dalam bahasa Aceh yang menunjukkan ia orang kepercayaannya. Usianya tigapuluhan dengan postur yang seperti tentara. Tegap dan kekar. Kebanyakan anggota tim sukses Irwandi, mantan TNA.</p>
<p>Sehabis berbicara dengan Isjkarudin, Irwandi berkata pada saya, “Dik, kami mendapat banyak laporan dari teman-teman di lapangan, banyak pemilih yang liar.”</p>
<p>Saya tak paham apa yang ia maksud.</p>
<p>“Banyak pendatang yang baru seminggu atau sebulan tiba, sudah dapat KTP (kartu tanda penduduk) dan didaftarkan,” tuturnya</p>
<p>“Mereka umumnya pekerja konstruksi dari Jawa,” katanya, menjelaskan asal pemilih liar itu. Irwandi dan orang-orang GAM mencurigai kuli-kuli bangunan ini, yang mereka sebut sebagai permainan intelijen Jakarta.</p>
<p>“Kami sudah lama tidak percaya sama pemerintah Indonesia,” kata Isjkarudin.</p>
<p>Mereka khawatir suara-suara itu akan diberikan ke salah satu calon pesaing mereka yang didukung partai dari Jakarta.</p>
<p>“Kami kalau kalah tidak apa-apa, asal adil,” tambah Isjkarudin.</p>
<p>ROMBONGAN tiba di Bireuen, tepatnya di desa Sagoe. Mobil berhenti di muka rumah keluarga Irwandi. Kami akan bermalam di sini sebelum melanjutkan kampanye ke Lhokseumawe keesokan harinya.</p>
<p>“Silahkan.” Ia mempersilahkan saya masuk. Rumah sederhana, punya empat kamar dan berlantai semen, bukan keramik.</p>
<p>Saya menempati kamar belakang bersama Isjkarudin.</p>
<p>Suara kokok ayam yang berulang-ulang terdengar di pagi 27 November 2006 itu. Saya baru setengah terjaga dan berusaha tidak menghiraukan suara itu.</p>
<p>Tapi saya benar-benar terbangun ketika Isjkarudin membangunkan saya dengan setengah memaksa.</p>
<p>“Rony, Rony bangun! Sudah jam tujuh, ayo cepat mandi. Sebentar lagi kita sudah mau jalan,” katanya. Mau tidak mau, saya pun melek dan langsung mandi.</p>
<p>Selepas mandi, saya menemukan Irwandi dan anggota rombongan di meja makan, bersiap untuk sarapan.</p>
<p>Lhokseumawe salah satu basis terkuat GAM.</p>
<p>Tempat pertama yang kami kunjungi adalah sebuah pasar. Di situ Irwandi disambut warga yang umumnya pedagang dan nelayan.</p>
<p>Kampanye berlangsung di sebuah stadion sepak bola. Namun, di luar perkiraan, hanya sedikit orang yang hadir di sana. Sekitar 1.500 orang. Ternyata banyak warga yang salah lokasi karena tempat kampanye dipindahkan dari tempat sebelumnya, lapangan Hiraq, ke stadion tersebut.</p>
<p>Dalam kampanye sore itu, Irwandi menyatakan bahwa KPA yang sebelumnya secara institusional mendukung pasangan Humam Hamid-Hasbi Abdullah atau H2O telah mencabut dukungannya. Memang di markas KPA di Banda Aceh, ketua KPA Muzakir Manaf bersama dengan Bachtiar Abdullah dan Sofyan Dawood telah melakukan konferensi pers di hari yang sama untuk menyampaikan pernyataan mengenai pencabutan dukungan terhadap H2O.</p>
<p>Saya pun sempat membaca salinan surat pernyataan yang ditandatangani oleh semua panglima wilayah GAM itu. Keceriaan jelas terpancar dari wajah tim sukses Irwandi dan tentunya juga Irwandi sendiri.</p>
<p>Saya pernah bertanya kepada Irwandi mengenai pernyataan mendukung H2O dari ketua KPA, yang mengikuti arahan Swedia dan mengapa ia sendiri tidak tunduk pada instruksi pemerintah GAM di luar negeri.</p>
<p>“Saya ini tentara pemberontak. Saya tidak bisa mengikuti perintah bodoh,” sahutnya.</p>
<p>SEPERTI hari sebelumnya, hari ini saya juga dibangunkan oleh Isjkarudin dengan perintah sama: cepat bangun. Mandi dan makan pun harus cepat. Bagi Isjkarudin dan teman-temannya, kedisiplinan seperti ini hal biasa. Mereka biasa bergerak cepat sesuai tuntutan keadaan sebagai gerilyawan TNA, dulu.</p>
<p>Selepas makan, seorang perempuan paruh baya yang juga tinggal di rumah Irwandi berkata pada saya, “Ada kawan di depan.” Yang ia dimaksud adalah sesama rekan wartawan. Pagi itu di teras depan sudah menunggu tiga wartawan Al-Jazeera Internasional. Salah seorang dari mereka mengenalkan diri dengan nama Stephanie. Mereka akan mengikuti kampanye Irwandi di Matang, Bireuen, hari ini.</p>
<p>Kepada Stephanie, Irwandi mengeluhkan soal pemberitaan di sejumlah media lokal Aceh, termasuk di Serambi Indonesia. Berita di Serambi Indonesia, menurut Irwandi, terlihat memihak salah satu kandidat gubernur.</p>
<p>“Berita mengenai H2O pasti ditulis besar-besar,” katanya.</p>
<p>Tetapi ketika ada berita menyangkut dirinya dan Nazar, contohnya tentang pencabutan dukungan terhadap H2O oleh KPA, hanya ditulis kecil saja. Irwandi kemudian memperlihatkan surat kabar Serambi Indonesia yang memuat berita tersebut. Panjang berita memang hanya satu kolom.</p>
<p>Sebelum menuju tempat kampanye, Irwandi dan rombongan pergi ke desa Lhong. Di desa ini sering terjadi kontak senjata saat konflik dulu.</p>
<p>“Saya jadi teringat masa-masa dahulu (konflik), di mana kita akan bertemu di persimpangan jalan dan bersama-sama pergi ke hutan dan gunung, ” kata Irwandi, ketika ia melihat orang-orang KPA yang menunggunya di persimpangan jalan memasuki desa Lhong.</p>
<p>Apakah ia pernah menembak musuh?</p>
<p>“Seringkali saya memutuskan untuk tidak menarik pelatuk untuk menyelamatkan nyawa mereka. Ketika jauh, mereka hanya seperti target, tetapi ketika mereka berada dekat, saya bisa melihat ke dalam bola matanya, dan mereka seperti saudara saya, juga manusia,” tuturnya.</p>
<p>Mobil memasuki desa. Jalan-jalan berbatu. Rumah-rumah sederhana.</p>
<p>Hampir semua warga yang berpapasan dengan rombongan kami tampak akrab dan kenal dekat dengan Irwandi. Dalam rombongan hari itu, turut serta adik bungsu Irwandi, Edi Suhaemi. Ia memperkenalkan diri sebagai adik bungsu Irwandi.</p>
<p>Edi bercerita bahwa keluarganya adalah keluarga abdi negara. Banyak anggota keluarganya yang bekerja di institusi pemerintah.</p>
<p>Adik Irwandi nomor dua adalah polisi. Edi sendiri jadi dosen di Universitas Malikul Saleh. Oleh Edi saya diperkenalkan pada beberapa orang GAM di desa Lhong, termasuk mantan anggota polisi Takengon yang desersi dan melarikan sembilan pucuk senjata AK-45.</p>
<p>Kampanye di lapangan Blang Asan, Matang, dikunjungi sekitar 5.000 orang. Seperti kampanye sebelumnya (di Pidie dan Lhokseumawe), kampanye ini pun dibuka dengan lagu-lagu perjuangan Aceh dan GAM yang selalu dinyanyikan Sarjani bin Abdul Samad, yang akrab dipanggil Imum Jon.</p>
<p>Saya sendiri tertarik dengan syair lagu-lagu yang dinyanyikan Imum Jon, terutama lagu yang khusus diciptakan untuk kampanye Irwandi-Nazar. Lagu ini lucu dan mengundang gelak tawa siapa saja.</p>
<p><em>Beutoi hana salah…beutoi hana salah…betoi betoi nyoe lumboi nan hana salah 2x</em></p>
<p><em>Tanyoe aceh bek le meukleh sahoe jalan</em><br />
<em>Teungku Irwandi dan Nazar beutapeumeunang</em><br />
<em>Nyoe pasangan perjuangan perdamaian</em><br />
<em>Nyoe ureung droe koen ureung jak peu ureung droe GAM</em></p>
<p><em>Bak po tallah temue do’a uruoe malam</em><br />
<em>Nyoe lumboi nan beubeureukat tanyaoe meunang</em><br />
<em>Tamat keudroe aceh nyoe droe po piasan</em><br />
<em>Insya allah nyan ek leumoe jeut keu intan</em></p>
<p><em>Beutoi hana salah… beutoi hana salah… betoi betoi nyoe lumboi nan hana salah 2x</em></p>
<p><em>Geutanyoe koen ureung lap darah bak peudeung</em><br />
<em>Mita untong bak gop susah cok peuleuweung</em><br />
<em>Dalam uteun meutem susah meuteung payeung</em><br />
<em>Bak meutiyeup geuleugoeng yg raya umpeun</em></p>
<p><em>Watee rundeng ureung tanyoe geugloeng gaki</em><br />
<em>Hareum geu’ek ateuh perte atra RI</em><br />
<em>Independent tapeujuang nyan kajibrie</em><br />
<em>Pakoen pungo jinoe culok droe lam perte basi</em></p>
<p><em>Beutoi hana salah… beutoi hana salah… betoi betoi nyoe lumboi nan hana salah 2x</em></p>
<p><em>Meuploeh thoen ka janji-janji dijak ruah</em><br />
<em>Goep poh rimueng teuka jih jak laboe darah</em><br />
<em>Beutaturi rakan droe yg tem susah</em><br />
<em>Demi nanggroe demi bansa geu rhoe darah</em></p>
<p><em>Kasep dile dum tadeungoe janji-janji</em><br />
<em>Kapileh kee kubloe bajee sareng kupi</em><br />
<em>Buet kupeuget jalan kulhat langet kucet</em><br />
<em>Ban teupileh peng dipeugleh pasoe lam bhep</em></p>
<p><em>Beutoi hana salah… beutoi hana salah… betoi betoi hai bang kaoy hana salah 2x</em><br />
<em>Beutoi hana salah… beutoi hana salah… betoi betoi nyoe lumboi nan hana salah 2x</em></p>
<p>Terjemahannya:</p>
<p><em>Betul tidak salah… etul tidak salah.. .betul betul ini nomor 6 tidak salah 2x</em></p>
<p><em>Kita orang Aceh jangan lagi terpisah-pisah, harus satu jalan</em><br />
<em>Teungku Irwandi dan Nazar harus kita menangkan</em><br />
<em>Ini adalah pasangan perdamaian</em><br />
<em>Ini orang kita sendiri (orang GAM) bukan orang-orang yang ngaku-ngaku GAM</em></p>
<p><em>Siang malam kita berdo&#8217;a pada Allah</em><br />
<em>Nomor enam (pasangan IRNA) semoga diberkati agar kita menang</em><br />
<em>Kita pegang sendiri pemerinta aceh</em><br />
<em>Insya allah taik lembu bisa jadi intan</em></p>
<p><em>Betul tidak salah.. .betul tidak salah.. .betul betul ini nomor 6 tidak salah 2x</em></p>
<p><em>Kita bukan tukang lap darah di pedang</em><br />
<em>Cari keuntungan dari kesusahan orang cari peluang</em><br />
<em>Dalam hutan kami menderita dan merana</em><br />
<em>Ketika mengejar bangsat-bangsat yang rakus</em></p>
<p><em>Ketika rapat, orang kita bersikukuh</em><br />
<em>Haram bergabung dengan partai RI</em><br />
<em>Jalur independen yang kita perjuangkan dan sudah di beri</em><br />
<em>Kenapa sekarang kita malah bergabung dengan partai basi</em></p>
<p><em>Berpuluh-puluh tahun sudah janji2 diberikan</em><br />
<em>Orang yang membunuh harimau, dia yang berdarah</em><br />
<em>Harus kita kenal kawan sendiri yang mau susah</em><br />
<em>Demi negara dan demi bangsa rela darahnya tumpah</em></p>
<p><em>Sudah cukup dulu kita dengar janji-janji</em><br />
<em>Pilihlah aku biar kubeli baju saring kopi</em><br />
<em>Aku akan bekerja, jalan kubuat, langit akan aku cat</em><br />
<em>Setelah kita pilih, uang habis masuk ke kantong sendiri</em></p>
<p><em>Betul tidak salah.. .betul tidak salah.. .betul betul hai bang kaoy tidak salah 2x</em><br />
<em>Betul tidak salah&#8230; betul tidak salah&#8230; betul betul ini nomor 6 tidak salah 2x</em></p>
<p>Nazar juga hadir dalam kampanye di Matang dan untuk kali pertama sang calon gubernur dan wakilnya hadir dalam sebuah kampanye bersama di luar Banda Aceh. Mereka memang mengagendakan kampanye keliling Aceh secara terpisah. Bagi-bagi tugas, istilahnya.</p>
<p>Dari komandan khusus saya, Isjkarudin, saya diberitahu bahwa besok rombongan akan pulang ke Banda Aceh. Ini kabar yang cukup menyenangkan. Artinya, saya bisa beristirahat dan mengambil beberapa pakaian bersih sebelum mengikuti perjalanan kampanye berikutnya. Maklumlah, saya hanya membawa dua helai baju dan sepotong celana yang saya pakai.</p>
<p>PAGI itu saya sudah bersiap untuk kembali ke Banda Aceh bersama rombongan. Namun ketika sarapan pagi selesai, Irwandi mendapat telepon dan setelah itu ia mengabarkan bahwa rombongan tidak jadi kembali ke Banda Aceh. Kami akan menuju Blangkejeren untuk kampanye esok hari. Musnahlah impian saya untuk bersantai barang sehari di Banda Aceh. Pakaian bersih lupakan saja.</p>
<p>Blangkejeren terletak di kabupaten Aceh Tengah, Gayo Lues. Untuk mencapainya kami harus ke Bener Meriah yang berjarak sekitar 101 kilometer dari Bireuen. Perjalanan ke sana dapat ditempuh dalam dua jam.</p>
<p>Irwandi akan bertemu Nazar yang pada hari itu dijadwalkan berkampanye di Bener Meriah. Irwandi sendiri tidak ada jadwal kampanye hari itu. Baru keesokan harinya ia akan berkampanye di Blangkejeren.</p>
<p>Ternyata perjalanan menuju Blangkejeren memakan waktu lebih lama. Dari Takengon, kami harus menempuh jarak 156 kilometer. Tak cuma jauh, medannya pun sulit. Kami harus melalui barisan gunung yang berada di antara Takengon dan Blangkejeren.</p>
<p>Sebelum berangkat, Irwandi membeli beberapa sekop dan kapak.</p>
<p>“Untuk membersihkan tanah longsor,” katanya.</p>
<p>Perjalanan ke Blangkejeren sangat rawan akan tanah longsor, terutama ketika hujan turun. Hal ini membuat saya sedikit khawatir.</p>
<p>Jalanan cukup sempit dan terjal. Lagi-lagi, Irwandi mengemudikan sendiri mobil yang membawa kami. Ketika saya menanyakan mengapa ia suka mengemudi sendiri, ia menjawab, “Saya tidak dapat mempercayakan nyawa saya di tangan seorang supir”.</p>
<p>Ia sebetulnya pantas jadi pembalap. Ia senang mengemudi kencang-kencang.</p>
<p>Jantung saya seperti mau terbang dibuatnya.</p>
<p>“Ngeri liat Bang Wandi bawa mobil? Kami pun ngeri takut kalo Bang Wandi yang bawa,” kata Isjkarudin, sambil sedikit tertawa.</p>
<p>Kemampuan mengemudi Irwandi rupanya sudah tersohor di kalangan orang GAM, terutama para gerilyawan.</p>
<p>Suatu hari seorang perwakilan Aceh Monitoring Mission, lembaga yang memantau pelaksanaan Perjanjian Helsinki di Aceh, ikut mobil Irwandi untuk bersama-sama ke rumahnya di Bireuen dari Banda Aceh. Di tengah perjalanan, orang ini minta diturunkan, saking takutnya. Ia memilih naik bus umum ketimbang ikut Irwandi.</p>
<p>Di perjalanan menuju Blangkejeren, saya pun makin percaya, mungkin bila ia tidak jadi gubernur, ia bisa jadi pembalap handal. Betapa tidak, dalam perjalanan tersebut ia dengan santainya dan mudahnya melewati jalan-jalan di barisan gunung yang berliku-liku, bahkan memasuki tikungan pun, kecepatan mobil tidak dikuranginya! Akibatnya mobil ngepot, seperti yang biasa disaksikan di reli-reli dunia!</p>
<p>Mobil melaju dengan alunan musik Bon Jovi, grup musik asal Amerika, yang distel agak keras. Saya terus-menerus khawatir. Jurang menganga di bawah kami.</p>
<p>Irwandi kemudian mengatakan kepada saya, kalau mengemudi pada malam hari sebenarnya lebih tidak menyeramkan. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab sambil bercanda, karena kalau malam hari katanya, jurang tidak kelihatan, hanya hitam saja, jadi tidak terlalu khawatir. Padahal, mungkin, jarak mobil dan jurang tinggal sentimeter saja. Alamak!</p>
<p>Semakin jauh mobil melaju, makin sedikit mobil yang ditemui di jalan. Tak berapa lama kami mulai melewati desa-desa kecil. Saya pun bingung, karena di tiap rumah ada gambar bendera merah putih, bendera kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>“Itu tanda kesetiaan pada RI (Republik Indonesia),” Irwandi menjawab keingintahuan saya, “Kalau tidak ada merah putih dianggap GAM, padahal dulu GAM juga ada yang tidur di rumah-rumah itu,” lanjutnya.</p>
<p>Ia kemudian juga bercerita mengenai penggundulan hutan yang terlihat di jalan yang kami lewati.</p>
<p>“Lihat itu di atas, gundul begitu, hanya ada satu dua pohon saja,” katanya, kesal.</p>
<p>Pada saat istirahat sejenak di tengah perjalanan, ia kembali menunjuk bukit di atas kami yang gundul karena penebangan hutan besar-besaran. Ia juga menyebut Hak Penerbangan Hutan atau HPH sebagai biang keladi penggundulan hutan yang terjadi di sana. “Yah, Bob Hasan dan kawan-kawan sejenisnya,” katanya.</p>
<p>Bob Hasan memang dikenal sebagai Si Raja Hutan dan dekat dengan presiden Soeharto waktu Orde Baru masih berkuasa di Indonesia.</p>
<p>DI desa bernama Kampung Owaq, kami kembali istirahat. Ketika itu hari sudah sore, hampir pukul empat. Kampung tersebut tampak lengang. Tidak ada aktivitas yang terlihat di jalan-jalan. Hanya seekor anjing saja yang melenggang di jalanan itu.</p>
<p>Rombongan memanfaatkan waktu untuk melepas rasa lapar di warung yang ada. Irwandi berbincang-bincang dengan pemilik warung dan beberapa lelaki yang kebetulan sedang berkumpul di situ.</p>
<p>Tiba-tiba keheningan jalan pecah oleh suara laju rombongan mobil berkecepatan tinggi. Semakin dekat, diikuti bunyi klakson, seorang pria paruh baya menampakkan dirinya di jendela salah satu mobil itu. Ia sudah memasang senyum, meski mobil tersebut belum lagi berhenti.</p>
<p>Irwandi pun menyapanya dan berteriak memanggil-manggil nama pria tersebut. Ketika mobil berhenti, kedua lelaki ini berpelukan dan saling senyum.</p>
<p>Lelaki paruh baya itu ternyata Jenderal purnawirawan Djali Yusuf, yang juga mencalonkan diri jadi gubernur Aceh. Perbincangan menjadi agenda yang tidak dapat dielakkan, sedang pertemuan merupakan suatu kebetulan belaka.</p>
<p>Djali Yusuf adalah mantan Panglima Daerah Militer Iskandar Muda, yang membawahi semua pasukan TNI yang ada di Aceh. Dulu kedua tokoh yang sama-sama mempunyai nama belakang Yusuf ini pernah terlibat dalam kontak senjata di Cot Trieng, yang lebih dikenal sebagai Pengepungan Cot Trieng.</p>
<p>Pada pengepungan tersebut banyak pasukan TNI yang tewas oleh gerilyawan GAM. Awal mulanya adalah ketika TNI mendapat kabar bahwa ada petinggi GAM di Cot Trieng. Petinggi itu dikabarkan sebagai Sofyan Dawood, juru bicara GAM.</p>
<p>Djali Yusuf pun memerintahkan pasukannya untuk mengepung daerah tersebut. Namun kabar tersebut tidak benar dan malah TNI dikepung balik oleh gerilyawan GAM. Sampai sekarang TNI tidak mengakui “kekalahan” di Cot Trieng tersebut. Irwandi mengetahui kejadian itu dengan tepat, karena ia sendiri yang mengatur strategi di sana dan sengaja menyebarkan informasi bahwa ada petinggi GAM yang di situ. Saat itu ia menjabat penasihat intelijen militer GAM.</p>
<p>Djali Yusuf dan Irwandi berbicang-bincang dan bercanda dengan orang-orang yang ada di warung.</p>
<p>“Kami ini sama-sama Yusuf. Bedanya yang ini Irwandi Yusuf, yang satunya lagi Djali Yusuf,” canda Djali, sambil merangkul bahu mantan musuhnya.</p>
<p>“Inilah indahnya damai, jadi bisa seperti ini. Di rombongan saya pun ada juga yang bekas TNA,” lanjut Djali.</p>
<p>Senyum tak pernah lepas dari wajah mereka berdua. Akhirnya waktu yang harus membuat masing-masing rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Kami ke Blangkerejen dan rombongan Djali Yusuf kembali ke Banda Aceh.</p>
<p>Sebelum kembali mengemudikan mobilnya, Irwandi sempat bercanda lagi dengan pemilik warung, “Bedanya TNI sama TNA, TNA nyetir sendiri.”</p>
<p>Kami sampai di Blangkejeren pada pukul tujuh malam dan bermalam di sebuah losmen.</p>
<p>BLANGKEJEREN, 30 November 2006. Kampanye akan berlangsung di sebuah lapangan pacuan kuda, tidak jauh dari losmen tempat kami menginap. Pukul tiga sore.</p>
<p>Untuk kampanye, Irwandi mengajak dua orang pemuka agama setempat. Ini lantaran GAM kurang mempunyai pengaruh di sini, juga bahasa setempat yang berbeda dengan bahasa Aceh yang dipergunakan sehari-hari oleh rombongan Irwandi.</p>
<p>Pemandangan di sekitar lapangan sangat indah. Gunung-gunung tampak mengelilingi daerah ini.</p>
<p>Hanya sekitar 500 orang yang datang. Masalah bahasa pun terlihat ketika Irwandi menyampaikan orasinya dan untuk pertama kali pula ia harus menggunakan bahasa Indonesia dalam kampanye. Sorak-sorai penonton pun jarang terdengar, karena bahasa Indonesia penduduk setempat juga kurang lancar. Lagu-lagu perjuangan Aceh yang biasanya dinyanyikan oleh Imum Jon pun ditiadakan.</p>
<p>“Kami tidak laku di sana, karena orang tidak mengerti,” kata Imum Jon setelah kampanye.</p>
<p>Nagan Raya adalah target kampanye hari berikutnya.</p>
<p>Namun, tidur bukan hal mudah. Pada pukul satu pagi, Irwandi memasuki kamar yang saya tempati bersama dengan Isjkarudin.</p>
<p>“Ayo jalan,” perintahnya, singkat.</p>
<p>Perjalanan menuju Nagan Raya harus melalui Takengon dan jalan yang sama, yang kami tempuh saat datang ke Blangkejeren. Artinya, kami akan melakukan reli lagi melalui barisan gunung.</p>
<p>Irwandi mengemudi, Isjkarudin duduk di sampingnya dan saya di bangku belakang.</p>
<p>Sebelum berangkat, Irwandi menginstruksikan, “Ikat, ikat!” untuk memastikan semua sudah mengenakan sabuk pengaman. Seperti kebiasaannya, ia memutar kembali lagu-lagu Bon Jovi dan dengan santainya memacu kendaraan dengan kencang. Medan yang berat, terjal, ditambah kegelapan malam seperti tidak menyusahkannya sama sekali. Di tengah alunan lagu “Blood Money” Bon Jovi, saya pun terlelap.</p>
<p>Saya terbangun ketika mobil tiba-tiba berhenti. Ternyata hari masih gelap dan dari jendela di kiri-kanan mobil masih terlihat wujud daun-daun pepohonan dan jurang, penanda kami belum sampai tujuan.</p>
<p>Mobil kami mengalami masalah radiator lagi, hal yang terjadi sejak pertama kali rombongan akan memasuki Pidie di hari pertama kampanye. Namun kerusakan kali ini sepertinya lebih parah.</p>
<p>Kerusakan itu mengakibatkan radiator cepat kering. Untuk mengisi ulang air radiator, Irwandi menggunakan air mineral botol. Ketika air di botol habis, ia mengambil air dari mata air. Radiator yang bocor itu membuat rombongan harus berhenti setiap 20 menit hanya untuk mengecek radiator dan mengisinya kembali dengan air yang bisa didapat di sekitar dan itu berlangsung terus, berkali-kali, sampai akhirnya rombongan sampai di kota dingin Takengon pagi harinya.</p>
<p>Sesampai di Takengon, rombongan berhenti untuk sarapan pagi. Saya kagum pada stamina dan ketahanan tubuh orang-orang GAM ini. Bayangkan, tujuh jam menyetir non-stop dan saat ini mereka dapat bercanda dan makan dengan santainya, sedang saya sendiri masih mabuk dan mual akibat reli malam itu.</p>
<p>Irwandi meledek saya, “Kamu kan masih muda, saya yang sudah tua saja kuat.”</p>
<p>Kampanye di Nagan Raya dihadiri sekitar seribu orang. Hujan jadi salah satu faktor yang menyebabkan sedikitnya jumlah massa. Hujan yang makin deras membuat banyak orang meninggalkan tempat kampanye, meski ada juga yang tetap bertahan sambil hujan-hujanan. Hujan juga yang membuat waktu kampanye lebih cepat.</p>
<p>Hari itu kami bermalam di rumah anggota KPA setempat. Besok, 2 Desember 2006, kami berangkat ke Calang.</p>
<p>PERJALANAN ke Calang, ternyata tidak kalah sulit dibanding rute ke Blangkejeren. Bukan karena medan yang berat, melainkan karena banjir memutus jalan satu-satunya dari Meulaboh ke Calang. Di Kuala Bhee mobil terpaksa berhenti gara-gara banjir menutupi jalan sepanjang 50 meter. Sebuah truk Colt terbalik setelah nekad melaluinya.</p>
<p>Melihat jalan satu-satunya menuju tempat kampanye terputus, saya mengira kampanye hari itu akan dibatalkan.</p>
<p>Ternyata tidak. Naik mobil tak bisa, naik truk terbalik, maka para mantan tentara GAM itu pun memutuskan naik sampan untuk melalui banjir. Sampan untuk menyeberangi banjir hanya dapat memuat tiga orang, termasuk pangayuhnya.</p>
<p>Irwandi sudah menyeberang lebih dulu. Saya agak ngeri, meski banjir tersebut saya perkirakan cuma setinggi pinggul orang dewasa. Sampan tidak stabil dan sering goyah. Kalau sampai sampan terbalik, maka semua kamera dan hasil foto saya akan hilang semua.</p>
<p>Di ujung jembatan sudah menunggu dua buah mobil yang akan membawa rombongan kami ke tempat kampanye. Sekitar tiga jam perjalanan lagi harus ditempuh untuk sampai ke tempat tujuan.</p>
<p>Di Calang sudah berkumpul sekitar 10.000 orang yang berkerumun di sekeliling podium yang didirikan secara sederhana oleh KPA setempat. Orang-orang yang datang itu kebanyakan berasal dari barak dan tempat pengungsian yang letaknya dekat situ.</p>
<p>Calang adalah daerah pesisir barat Aceh yang paling parah terkena tsunami. Rumah dan bangunan yang layak masih jarang terlihat, meski bencana sudah dua tahun berlalu. Rumah-rumah warga lebih tepat disebut gubuk.</p>
<p>Wartawan tak terlihat di tempat kampanye Irwandi. Selama ini kampanyenya memang kurang mendapat liputan wartawan.</p>
<p>Irwandi mengenakan pakaian tradisional Aceh lengkap. Ia bersiap-siap pidato, yang isinya tak jauh beda dengan kampanye di kota-kota sebelumnya. Pendidikan gratis mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Pelayanan kesehatan dasar gratis. Sambil bercanda ia mendefinisikan arti kata “dasar” itu. “Dalam arti bukan kosmetik. Kalau mancungin hidung yah tidak gratis,” katanya, yang disambut tawa riuh massa.</p>
<p>Ia juga berorasi tentang kemerdekaan.</p>
<p>Tetapi “kemerdekaan yang ingin kita capai bukan lagi kemerdekaan secara teritorial, tetapi kemerdekaan secara hakiki,” ucapnya.</p>
<p>Merdeka secara hakiki, menurut Irwandi, adalah bangsa Aceh dapat bebas dan makmur di segala segi. Kemerdekaan itu meliputi kebebasan mengatur kehidupan beragama, ekonomi, dan budaya, yang saat ini ia rasa belum tercapai.</p>
<p>Setelah kampanye, rombongan bersiap kembali ke Meulaboh. Namun, saat berjalan melintasi kantor polisi Aceh Jaya yang letaknya berdekatan dengan tempat kampanye tadi, seorang polisi keluar dan tiba-tiba tersenyum dan memanggil serta menjabat tangan Irwandi.</p>
<p>“Ayo-ayo diabadikan. Ini peristiwa bersejarah,” ujar seseorang pada saya.</p>
<p>Irwandi beserta beberapa anak buahnya dipersilahkan masuk ke dalam ruangan. Rupanya polisi tadi adalah kepala polisi kabupaten Aceh Jaya (namanya saya lupa).</p>
<p>Ruang 3 x 10 meter persegi itu nyaman dan sejuk karena udara dari pendingin ruang. Polisi tersebut menyilahkan kami duduk di sebuah sofa yang ada di ujung ruang, dekat pintu.</p>
<p>Ia sangat ramah kepada kami khususnya pada Irwandi, seperti layaknya sahabat lama. Padahal sebelum Perjanjian Helsinki ditandatangani, Irwandi sempat ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara sampai tsunami pada akhir 2004 itu membebaskannya dari penjara.</p>
<p>“Dia ini guru saya,” kata kepala polisi itu, sambil melihat kepada Irwandi. Entah apa maksudnya. Mungkin serius. Mungkin bercanda.</p>
<p>Mereka berbicara dalam bahasa Aceh setelah itu. Kepala polisi bercerita tentang bagaimana ia bisa selamat saat tsunami menghantam Calang dan banyak anggota polisi yang meninggal waktu itu.</p>
<p>Saya heran saya melihat dua pihak, yang satu GAM dan yang satunya lagi polisi, bisa duduk dan berdialog dengan santai. Mungkin benar kata Djali Yusuf ketika bertemu Irwandi, “Inilah indahnya damai.”</p>
<p>Banjir rupanya belum surut benar di Kuala Bhee, tapi kali ini sampan sudah tidak ada dan truk besar jadi alat penyeberangan kami. Irwandi duduk di depan, sementara saya dan yang lain naik di bak truk. Dari serpihan kayu dan pasir di bak, saya pikir truk ini biasa digunakan untuk mengangkut pasir atau kayu.</p>
<p>“Baru pertama kali datang ke Aceh, semua sudah dijelajahi, utara, barat, timur sudah habis, sampan pun sudah, naik truk sudah, tinggal naik kuda saja yang belum!” Seorang anggota rombongan menyindir saya.</p>
<p>Kami tiba di sebuah rumah untuk bermalam pada pukul 00.30.</p>
<p>MEULABOH, 3 Desember 2006. Di lapangan Teuku Umar sudah berkumpul sekitar 12.000 orang.</p>
<p>Sekali lagi liputan media sangat minim untuk Irwandi. Hanya seorang koresponden media cetak asing serta media elektronik yang mewawancarai Irwandi sehabis kampanye.</p>
<p>Minimnya perhatian media terhadap Irwandi disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah keputusan Irwandi dan Nazar untuk maju secara independen tanpa kendaraan politik berupa partai politik. Banyak orang menyangsikan kesiapan dan apalagi, kemenangan mereka.</p>
<p>Banyak orang yang menduga pasangan Humam Hamid dan Hasbi Abdullah (H2O) yang maju dengan dukungan Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP) atau Malik Raden yang didukung oleh Partai besar Jakarta, Golongan Karya, lebih punya peluang besar untuk menang.</p>
<p>Dengan adanya dukungan dari partai, tentu saja dana sudah pasti tersedia untuk keperluan kampanye para calon. Humam-Hasbi sendiri dikabarkan menghabiskan lebih dari Rp 20 miliar untuk kampanye ini. Setidaknya jumlah poster dan spanduk kampanye terbanyak berasal dari pasangan tersebut.</p>
<p>Bagaimana dengan Irwandi? Ia mengatakan hanya menghabiskan kurang dari Rp 500 juta untuk kampanyenya.</p>
<p>Dari mana sumber dananya?</p>
<p>“Saya mencari dari teman-teman pendukung saya. Yah, ada dapat sedikit-sedikit, sesama miskin,” jawabnya, tanpa menyebut secara rinci siapa teman-temannya itu.</p>
<p>Irwandi memilih jalur independen, karena ia menganggap tidak ada partai politik yang mampu membawa aspirasi rakyat aceh, dan partai lokal yang sedianya akan dibentuk oleh KPA, juga belum terbentuk.</p>
<p>Setelah maghrib, kami menuju Bireuen dan bermalam lagi di rumah Irwandi.</p>
<p>DARI Bireuen kami menuju Lhokseumawe. Irwandi akan berkampanye lagi di Lhokseumawe. Banyak mobil datang mengangkut orang-orang yang ingin menonton kampanye di lapangan Hiraq. Mereka terdiri dari laki-laki, perempuan, bahkan ada anak-anak. Poster Irwandi-Nazar dipajang di mobil-mobil itu. Beberapa warga memakai ikat kepala bertuliskan “Irwandi-Nazar”.</p>
<p>Saya memotret antusiasme massa, beberapa kali.</p>
<p>“Banyak dari mereka yang tak akan dapat memilih (dalam pemilihan kepala daerah atau Pilkada),” ujar salah seorang simpatisan.</p>
<p>Banyak yang belum memiliki kartu tanda penduduk atau KTP.</p>
<p>Orang berjubel. Lapangan sepak bola yang luas itu tidak dapat menampung keseluruhan massa, yang diperkirakan berjumlah 20.000 orang.</p>
<p>Tiba-tiba dua orang simpatisan GAM mengibarkan bendera bulan bintang, bendera GAM. Tim sukses Irwandi panik. Mereka minta bendera itu disimpan. Namun, wartawan dan fotografer justru ingin bendera tetap dikibarkan. Mereka ingin menghasilkan tulisan dan foto yang sensasional.</p>
<p>RELI malam akan terulang lagi. Rombongan kampanye akan menuju Tapak Tuan, Aceh Selatan, yang berjarak 220 kilometer dari Bireuen atau sekitar 12 jam perjalanan. Berangkat pukul satu malam, tiba di tujuan pukul satu siang.</p>
<p>Tapak Tuan mempunyai potensi yang amat besar untuk sektor wisata. Di satu sisi berdiri gunung megah, di sisi lain membentang pantai indah. Namun jalan menuju kota ini cukup sulit. Jalan sempit dan hanya bisa dilalui satu mobil.</p>
<p>Di terminal bus Lhok Tapak Tuan, podium sudah nampak berdiri walaupun sederhana dan pengeras suara pun sudah siap dipakai. Semua itu dikerjakan orang-orang KPA setempat. Meski secara institusi KPA tidak mendukung calon mana pun, bahkan pernah mengeluarkan pernyataan mendukung H2O, tetapi orang-orang di dalamnya yang kebanyakan mantan gerilyawan GAM mendukung Irwandi Yusuf, sesama angkatan muda GAM.</p>
<p>Irwandi berusia 46 tahun, paling muda di antara tujuh calon gubernur lainnya. Calon wakilnya, Nazar, bahkan lebih muda. Usia Nazar 33 tahun. Jika terpilih, Nazar akan jadi wakil gubernur termuda di Indonesia.</p>
<p>Massa sudah berkumpul. Sekitar 12.000 orang. Kampanye berlangsung seperti yang sudah-sudah. Pidato. Lagu-lagu.</p>
<p>Besok adalah kampanye puncak dan akan diadakan di lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Artinya, dibutuhkan 14 jam perjalanan dari Tapak Tuan.</p>
<p>Saya makin kagum terhadap stamina Irwandi. Kalau dihitung-hitung, sudah 50 jam kami habiskan di jalan raya dan lebih dari setengahnya Irwandi yang mengemudi.</p>
<p>KAMPANYE di Blang Padang hanya dihadiri sekitar 3.000 orang. Tak ada lagu perjuangan yang dinyanyikan Imum Jon. Tapi kali ini liputan media amat besar. Mungkin karena kampanye berlangsung di Banda Aceh dan wartawan tak harus bersusah payah mencapai lokasi kampanye.</p>
<p>Fotografer sibuk memotret. Wartawan sibuk mencatat. Sofyan Dawood, juru bicara KPA, ikut hadir dan memberikan orasi. Irwandi pernah menyebut Sofyan sebagai ketua tim kampanyenya.</p>
<p>Saya tak mengikuti kampanye Irwandi yang terakhir di Sabang, Pulau Weh. Tubuh saya tak kuat. Tulang-tulang terasa mau patah.</p>
<p>Kami baru bertemu lagi pada hari pencoblosan, 11 Desember 2006. Irwandi mengenakan setelan hitam-hitam. Ia tersenyum menyambut wartawan yang sudah menunggu di halaman kantor KPA di Lamdingin, Banda Aceh. Senyum tegang, senyum khas politisi, bukan senyum yang biasa saya lihat saat kami reli.</p>
<p>Seorang wartawan bertanya tentang kansnya dalam pemilihan ini. Ia menjawab bahwa ia yakin akan menang dalam satu putaran saja. Ketika si wartawan menanyakan alasan di balik keyakinan itu, ia menjawab bahwa ia tidak punya dana untuk putaran kedua.</p>
<p>Bagaimana kalau kalah?</p>
<p>“Jika saya kalah, saya akan jadi loser saja,” ucapnya santai, lalu menegaskan kembali bahwa ia akan menang.</p>
<p>Pada pukul tujuh malam di Swiss Bel-Hotel, Banda Aceh, diadakan pengumuman hasil quick count pencoblosan hari itu. Penyelenggaranya adalah Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Hasil resmi akan dikeluarkan Komisi Independen Pemilihan (KIP), tapi penghitungan ala LSI pun cukup akurat. Ia pernah digunakan di pemilihan presiden yang lalu.</p>
<p>Denny Jauhar Ali, ketua LSI, menyatakan Irwandi memperoleh 39,7 persen suara. Itu artinya 14 persen lebih dari jumlah yang dibutuhkan untuk menang pemilihan secara langsung dalam satu putaran.</p>
<p>Setelah mendengar pengumuman tersebut, saya memutuskan pergi ke kantor KPA di Lamdingin dengan becak.</p>
<p>Kantor itu tampak lengang. Tak ada kerumunan wartawan yang terlihat di ruang depan. Ternyata Irwandi sedang berada di ruangannya dan melayani wawancara dengan media asing. Saat wawancara selesai, saya langsung menemui dan menyalaminya.</p>
<p>“Saya menang kan karena kamu ikut kampanye saya,” selorohnya, diikuti derai tawa.</p>
<p>Kemenangan ini jadi kejutan bagi banyak orang.</p>
<p>“Salah satu hal yang orang lain tidak tahu adalah jaringan. Saya memiliki jaringan, yang walaupun compang-camping tetapi masih rapi sampai ke bawah,” katanya.</p>
<p>Garis komando itulah yang ia maksud. Para panglima sagoe yang tersebar di seluruh pelosok Aceh adalah mereka yang menyokong dan jadi ujung tombak kemenangannya.</p>
<p>Tetapi perjalanan untuk membawa Aceh pada kemerdekaan yang hakiki itu masih panjang. Dan ia menyadari itu.*</p>
<p>*) Rony Zakaria adalah kontributor Aceh Feature di Jakarta, bekerja sebagai fotografer paruh waktu.http://www.acehfeature.org/index.php/site/detailartikel/376</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maarifsyahed.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maarifsyahed.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maarifsyahed.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maarifsyahed.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maarifsyahed.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maarifsyahed.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maarifsyahed.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maarifsyahed.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maarifsyahed.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maarifsyahed.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maarifsyahed.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maarifsyahed.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maarifsyahed.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maarifsyahed.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maarifsyahed.wordpress.com&amp;blog=2233691&amp;post=138&amp;subd=maarifsyahed&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maarifsyahed.wordpress.com/2012/01/03/kemerdekaan-yang-hakiki-untuk-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b5a9630995a96d0b2e286493c556087?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">maarifsyahed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamatkan Demokrasi, Teruskan Aceh Damai dan Makmur</title>
		<link>http://maarifsyahed.wordpress.com/2011/12/30/selamatkan-demokrasi-teruskan-aceh-damai-dan-makmur/</link>
		<comments>http://maarifsyahed.wordpress.com/2011/12/30/selamatkan-demokrasi-teruskan-aceh-damai-dan-makmur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 09:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maarifsyahed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maarifsyahed.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Kita memahami demokrasi dan hukum sebagai instrumen yang paling maju dan kuat  untuk menengahi konflik kepentingan politik menjelang pilkada di  Aceh saat ini. Tak ada jalan lain selain mengegakkan demokrasi dan menjalankan hukum. Meski kepentingan politik menuntut kita mencari celah-celah diantaranya. Tahun 2011 telah menandai babak baru dari manifestasi pertarungan politik di Aceh  dalam menentukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maarifsyahed.wordpress.com&amp;blog=2233691&amp;post=117&amp;subd=maarifsyahed&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;" align="center"><em>Kita memahami </em><em>demokrasi </em><em>dan hukum sebagai instrumen </em><em>yang </em><em>paling maju dan kuat  untuk menengahi konflik kepentingan politik menjelang pilkada di  Aceh saat ini</em><em>. Tak</em><em> </em><em>ada jalan lain selain </em><em>mengegakkan </em><em>demokrasi </em><em>dan menjalankan hukum. Meski kepentingan politik menuntut kita mencari celah-celah diantaranya.</em></p>
<div id="attachment_132" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://maarifsyahed.files.wordpress.com/2011/12/15316_1405605270782_1551911796_31040421_7005308_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-132" title="Generasi muda partai Rakyat Aceh" src="http://maarifsyahed.files.wordpress.com/2011/12/15316_1405605270782_1551911796_31040421_7005308_n.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Partai Rakyat Aceh</p></div>
<p>Tahun 2011 telah menandai babak baru dari manifestasi pertarungan politik di Aceh  dalam menentukan masa depan seluruh rakyat Aceh. Penegakan demokrasi dan hukum di Aceh, benar-benar sedang menghadapi tantangan yang sangat besar.</p>
<p>Manisfestasi <em>bloking</em> politik tersebut tidak hanya terlihat pada usaha keduanya untuk memenangkan kandidatnya pada pilkada Aceh 2012.  Secara substansi, <em>bloking</em> politik tersebut telah menunjukkan perbedaan yang sangat tajam, antara blok politik pro demokrasi dan blok politik konservatif. Kenyataanya tersebut, telah memaksa kembali sebagian besar rakyat Aceh terseret dalam dua arus besar blok politik itu.<span id="more-117"></span></p>
<p>Dari kondisi tersebut, Partai Rakyat Aceh (PRA) membuat catatan akhir tahun sebagai upaya untuk terus berkomitment terhadap proses penegakan demokrasi di Aceh. Partai Rakyat Aceh (PRA) berharap, catatan yang kami simpulkan kedalam beberapa item ini dapat menjadi bahan diskusi objektif bagi semua pihak untuk memperbaiki Aceh dimasa yang akan datang:</p>
<ol>
<li><strong>1.      </strong><strong>Politik</strong><strong> dan Demokrasi</strong></li>
</ol>
<p>PRA menilai, tahun 2011 merupakan fase yang paling dinamis dan dialektis dalam proses politik dan demokrasi di Aceh. Seperti yang kita ketahui bersama, dalam jadwal normal, pilkada di Aceh seharusnya sudah dilaksanakan secara serentak pada tahun 2011 di 17 kabupaten/kota dan pemilihan Gubernur di tingkat propinsi. Akibat tingginya tensi politik tersebut, tahun 2011 telah melahirkan dua <em>bloking</em> politik besar.</p>
<p><em>Blok pertama</em>, sebagai blok politik yang menginginkan pesta demokrasi berjalan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan <em>blok kedua</em> kekuatan politik yang menilai telah terjadi konflik regulasi  di Aceh terus membangun opini publik bahwa proses demokratisasi harus dihentikan dengan alasan keputusan Mahkamah Konstitusi—<em>tentang calon independent</em>—telah mengangkangi UU-PA.</p>
<p>Pertarungan politik yang cenderung memanas adalah hal yang wajar dalam setiap momentum pergantian kekuasaan. Sayangnya, pertarungan politik di Aceh justru mengurangi kadar kualitas nilai-nilai pendidikan demokrasi dan politik untuk rakyat akibat rendahnya materi yang diperdebatan. Hukum/konstitusi sebagai aturan main yang paling tinggi di Negara ini, yang seharusnya menjadi titik “kompromi” dari pertarungan politik, telah semata-mata diabaikan.</p>
<p>Kondisi tersebut, telah menyeret partai-partai politik di Aceh yang seharusnya menjadi penjaga dari “kehormatan” hukum/konstitusi, secara sadar atau tidak sadar justru telah menginjak-injak konstitusi itu sendiri. Padahal mereka menyadari sepenuhnya, perlawanan terhadap konstitusi yang sah dapat disimpulkan sebagai tindakan makar.</p>
<p>Kondisi politik di Aceh, semakin memanas ketika Mahkamah Konstitusi (MK) mencabut pasal 256 dalam UU-PA dan memberlakukan kembali calon perseorangan dalam pilkada Aceh. Kondisi ini telah mengakibatkan kepanikan dikelompok tertentu yang secara politik ingin meminimalisir jumlah kompetitor, sehingga peluang memenangkan pertarungan menjadi lebih besar.</p>
<p>Pesta demokrasi di Aceh sekali lagi telah menunjukkan bagaimana kekuatan politik mayoritas melakukan upaya-upaya politik untuk semakin meneguhkan kekuasaanya. Hal itu dapat dibenarkan dalam teori politik, sejauh dilakukan dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan peraturan perundanga-undangan yang berlaku.</p>
<p>Sesuatu yang patut disayangkan, bila kekuatan politik mayoritas justru menunjunjukkan kecenderungan arogansinya, bahwa pilkada di Aceh harus dijalankan sesuai format yang mereka inginkan,  meski hal itu tidak mungkin tidak mereka sadari sebagai tindakan politik yang melawan peraturan hukum yang berlaku.</p>
<p>Partai Rakyat Aceh (PRA) menyakini sepenuhnya, demokrasi di Aceh harus diselamatkan, bahwa hanya dengan terwujudnya Aceh yang demokratis, perdamaian Aceh dapat terus dijaga dan dinikmati oleh seluruh rakyat Aceh. Partai Rakyat Aceh (PRA) berkeyakinan, kekuatan politik yang tidak mendukung tegaknya demokrasi akan menjadi musuh dari rakyat Aceh sendiri, sebab rakyat Aceh sangat menginginkan damai di Aceh terus berjalan.</p>
<p>Rakyat Aceh dalam kurun waktu enam tahun perjalanan damai di Aceh sangat merasakan bagaimana perdamaian itu sendiri dapat terus meningkatkan kualitas hidupnya secara ekonomi dan politik. Rakyat sangat merasakan hanya dengan perdamaianlah, kesejahteraan dapat diwujudkan.</p>
<p>Dalam proses menegakkan demokrasi di Aceh, Partai Rakyat Aceh (PRA) telah memperjuangkan dan mendukung sepenuhnya keberadaan jalur perseorangan/independent sebagai manifestasi demokrasi dalam rangka mengakomodir hak politik setiap warga negara. Oleh karenanya, kedaulatan hak-hak politik rakyat harus dibuka seluas-luasnya. Tak ada alasan pembenaran apapun dan oleh siapa pun untuk mengebiri hak politik rakyat ini.</p>
<p>Bagi Partai Rakyat Aceh (PRA), partai-partai dan komponnen-komponen lainya yang menolak keberadaan calon independen di Aceh adalah bentuk pengangkangan partai-partai tersebut terhadap demokrasi, bagi Partai Rakyat Aceh (PRA) tidak mendukung demokrasi di Aceh sama dengan, sedang membunuh perdamaian di Aceh itu sendiri.</p>
<p>Karena itu, Partai Rakyat Aceh (PRA) menyerukan kepada seluruh rakyat Aceh agar mendaftrakan diri sebagai pemilih tetap, untuk mensukseskan pilkada Aceh yang akan segera dilaksankan. Dengan begitu setiap rakyat Aceh dapat mendukung kandidat yang sudah terbukti berpihak pada demokrasi, menjaga damai Aceh dan terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.</p>
<p>Partai Rakyat Aceh (PRA) mencatat, DPRA sebagai lembaga politik yang mewakili rakyat Aceh, dan secara mayoritas dikuasai oleh Partar Aceh (PA), tidak memberikan kontribusi yang besar terhadap perubahan kearah yang lebih baik di Aceh. Sebagaimana tugas utama DPRA, yang seharusnya memproduksi regulasi (qanun), mengesahkan anggaran dan melakukan pengawasan, faktanya sebahagian besar tugas tersebut tidak dilakukan dengan maksimal.</p>
<p>Sepanjang tahun 2011, DPRA melalui badan Legislasi (Baleg) DPRA telah menetapkan pembahasan dan pengesahan sebanyak 31 rancangan qanun (Raqan) prioritas dalam Program Legislasi Aceh (Prolega), namun sampai saat ini qanun-qanun itu belum sampai 20 persen yang diselesaikan.</p>
<p>Selama tahun 2011, DPRA tidak mampu memaksimalkan tugas-tugasnya untuk menyelesaikan pembahasan qanun prioritas, lebih dari itu DPRA lebih banyak menghabiskan energinya untuk mengurus persoalan pergantian kekuasaan. DPRA justru, memperparah kondisi tersebut dengan memunculkan polemik pilkada yang sangat panjang dan melelahkan ini dari awal sampai akhir tahun 2011 ini, itupun belum ada penyelesaian.</p>
<p>Polemik hukum dalam persoalan pilkada mulai dicampur adukkan dengan kepentingan politik pratis oleh kekuatan politik mayoritas di DPRA, yang sangat kita sayangkan lagi, keberadaan partai-partai lain di DPRA terkesan hanya menjadi pelengkap saja, partai-partai tersebutas justru semakin menjerumuskan kekuatan mayoritas untuk melawan hukum dan seperti lepas tangung jawab atas kinerja DPRA.</p>
<p>Rapor merah DPRA tersebut sekaligus menunjukkan kepada rakyat Aceh bahwa kekuatan dominan dalam parlement yaitu Partai Aceh (PA) dengan 33 kursi di DPRA telah gagal mengemban amanah rakyat untuk meneruskan Aceh damai dan makmur.</p>
<ol>
<li><strong>2.      </strong><strong>Ekonomi</strong></li>
</ol>
<p>Secara ekonomi tahun 2011 Aceh telah menunjukkan perkembangan yang signifikan di bawah kepemimpinan gubernur Irwandi yusuf. Partai Rakyat Aceh (PRA) menyadari bahwa kinerja pemerintah Aceh dibawah kepemimpinan Irwandi Yusuf belum mampu sepenuhnya mengentaskan kemiskinan, menghapus Aceh dari angka penganguran, dan meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh setara dengan daerah-daerah lainya. Akan tetapi kerja keras pemerintah Aceh terus menunjukkan angka yang signifikan sebagai pondasi yang harus di teruskan untuk benar-benar mengantarkan rakyat Aceh pada kemakmuran yang kita harapkan.</p>
<p>Kita patut memberi apresiasi, selama kepemimpinan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, pertumbuhan ekonomi  Aceh hampir disemua sektor mengalami pertumbuhan yang meningkat—<em>dalam hitungan </em><em>triwulanan</em>. Pertumbuhan tertinggi yakni pada sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 2,46 persen sedangkan pertumbuhan terendah pada sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,91 persen.</p>
<p>Sementara itu, angka pengangguran  pada Agustus 2011 mengalami penurunan sekitar 22 ribu orang. Dibandingkan dengan keadaan pada Februari 2011 yaitu dari 171 ribu orang. Turunnya angka pengangguran ini menyusul bertambahnya lapangan kerja pada sejumlah sektor seperti pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan, perburuan dan pertambangan.</p>
<p>Angka kemiskinan pada tahun 2011 ini turun hingga 969.353 jiwa atau 19,57 persen dari angka yang dicapai tahun sebelumnya. Sejak 2006 hingga 2010 angka kemiskinan terus menurun, menyusul membaiknya situasi keamanan dan kondisi perekonomian masyarakat.Pada 2006, penduduk miskin di Aceh tercatat 1.112.061 jiwa atau mencapai 26,66 persen, sedangkan pada 2010 turun menjadi 1.088.368 jiwa 21,98 persen, dan  pada 2011 turun menjadi 969.353 jiwa atau 19,57 persen. Berdasarkan data kependudukan jumlah penduduk Aceh hingga Mei 2011 telah mencapai 4.953.262 jiwa, atau mengalami pertumbuhan sebesar 11,59 persen dari jumlah penduduk pada 2007. Pengeluaran ril per kapita penduduk Aceh kini menjadi 611.420 per bulan.</p>
<ol>
<li><strong>3.      </strong><strong>Kesehatan</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p>Partai Rakyat Aceh (PRA) menilai bahwa Program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) sebagai sebuah solusi kongkrit Pemerintah Aceh untuk meningkatkan kesejahteraan. Menjamin kesehatan yang layak sebagai hak dasar rakyat itu dimanahkan oleh konsitusi. Amanah itu tertulis dalam undang-undang dasar 1945, Pasal 28 H Ayat 1 berbunyi: setiap penduduk berhak atas pelayanan kesehatan. Sementara pada Pasal 34 ayat 3 berbunyi: negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas kesehatan yang layak.</p>
<p>Sejak 1 Juni 2010 di Aceh, dengan semangat menjunjung tinggi Hak-hak Dasar Rakyat,  pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Inrwandi Yusuf, telah dengan berani meluncurkan program pengobatan gratis kepada seluruh rakyat Aceh untuk semua jenis penyakit dan berlaku untuk semua kelas sosial.</p>
<p align="left">Kebijakan pemerintahan Aceh yang strategis ini, telah membesarkan harapan rakyat untuk dapat meningkatkan kesejahteraan. Sebelumnya banyak kalangan mencibir, namun pemerintah Aceh telah menunjukkan bukti-bukti pelayanan kesehatan gratis untuk rakyat ini akan dapat mendorong percepatan peningkatan pendapatan rakyat.</p>
<p align="left">Menurut data statistik kesehatan Aceh sebelum JKA di berlakukan menunjukkan keadaan yang buruk dibandingkan rata-rata nasional, pada akhir tahun 2009 angka kematian bayi Aceh 40 per 1000 angka kelahiran, lebih tinggi rat-rata nasional 37 per 1000 angka kelahiran. Angka kematian ibu melahirkan  sebesar 237 per 100.000 juga diatas rata-rata nasional sebesar 228 per 100.000 angka kelahiran. Angka harapan hidup penduduk Aceh 68, 3 tahun. Sementara indek pembangunan manusia aceh berada pada level 4. Balita yang kekurangan nutrisi mencapai 19,6 % dan anak yang mengalami gizi buruk mencapai angka 26%.</p>
<p align="left">Partai Rakyat Aceh (PRA) mendukung sepenuhnya terobosan program JKA, karena memang pada pemilu lehgislatif tahun 2009 program kesehatan geratis menjadi program utama Partai Rakyat Aceh (PRA) dan terbukti dapat diwujudkan oleh pemerintahan Aceh. JKA terbukti mampu meningkatkan kualitas kesehatan rakyat Aceh terutama untuk ibu melahirkan dan bayi,  dimana pada tahun 2007 angka kematian ibu turun secara signifikan dari 237/100.000 lahir hidup menjadi 184/100.000 lahir hidup pada tahun 2010. Angka kematian bayi dari 35/1.000 lahir hidup pada tahun 2007 turun menjadi 25/1.000 lahir hidup pada tahun 2010.</p>
<p align="left">Dampak lainnya yang cukup positif dirasakan oleh rakyat Aceh, adalah  tersedianya akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Banyak diantara rakyat miskin di Aceh selama ini tidak berani kerumah sakit karena ketiadaan dana, tetapi dengan ada program JKA ini rakyat miskin Aceh yang selama ini  hanya bisa pasrah menunggu kematian dapat terobati dengan adanya program JKA ini.</p>
<p align="left">Pun demikian Partai Rakyat Aceh (PRA) memandang Program JKA ini perlu untuk terus diperbaiki baik dari segi pelayanan tekhnis maupun dari segi kualitas, dan yang terpenting adalah bagaimana program JKA ini  dapat dilanjutkan untuk selamanya agar dapat dinikmati oleh rakyat Aceh.</p>
<ol>
<li><strong>4.      </strong><strong>Pendidikan</strong></li>
</ol>
<p>Dalam sektor pendidikan, Partai Rakyat Aceh (PRA) menepatkan pendidikan menjadi satu prioritas utama yang harus didorong peningkatan kwantitas dan kualitasnya. Hal itu dijamin dalam pasal 182 UU-PA, paling sedikit 30% dari dana bagi hasil migas dialokasikan untuk membiayai pendidikan Aceh. Begitu juga dalam pasal 193 UU-PA disebutkan anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan Aceh paling sedikit 20% dari APBA/APBK.</p>
<p>Bila dilihat dari ketersedian fasilitas dan angka partisipasi rakyat dalam pendidikan, kinerja pemerintahan Aceh bisa dibilang telah cukup memuaskan.  Tapi bila dilihat dari kualitas pendidikan Aceh dibandingkan secara Nasional cukup memprihatinkan.  Namun pondasi dasarterhadap pendidika yang berkualitas telah dilakukan oleh pemerintahan Aceh saat ini dan Partai Rakyat Aceh (PRA) akan terus  mendesak pemerintah Aceh untuk lebih mengutamakan peningkatan kualitas pendidikan di Aceh. Sehingga pondasi yang ada saat ini perlu diteruskan oleh pemimpin yang memiliki visi dan pengalaman untuk merubah wajah pendidikan Aceh.</p>
<ol>
<li><strong>5.      </strong><strong>HUKUM</strong></li>
</ol>
<p>Dari segi penegakan hukum di Aceh, selama 2011 masih memiliki banyak catatan hitam, banyak kasus kriminal bersenjata dan kasus kekerasan lainya yang terjadi di Aceh belum bisa di ungkap secara hukum, kondisi ini sangat memprihatinkan bagi kita semua. Karena penegakan hukum merupakan kunci bagi terciptanya pardamaian yang berkelanjutan.</p>
<p>Selain kasus kriminal bersenjata masih banyak catatan-catatan kasus hukum yang masih terabaikan, seolah-olah hukum dan undang-undang bisa ditafsirkan sesukan hati oleh kelompok tertentu. Penolakan partai politik terhadap keputusan hukum (keputusan MK) sebenarnya sebagai wujud perlawanan partai politik terhadap konstitusi NKRI, yang kita biarkan begitu saja. Sehingga tahun 2011 hampir bisa dikatakan tahun yang tidak tertip hukum dikalangan elit politik.</p>
<p>Oleh karena ini, PRA mengharapkan pihak penegak hukum untuk bia bekerja maksimal dalam tahun 2012 untuk mengusut tuntas berbagai kejahatan di Aceh. PRA menyakini semua rakyat Aceh dan semua institusi akan bahu membahu memberikan dukungan kepada pihak penegak hukum untuk bisa menegakkan hukum<em> </em>di Aceh.</p>
<p><strong>Tahun </strong><strong>2012</strong><strong> Sebagai Harapan Baru</strong></p>
<p>Harapan Partai Rakyat Aceh (PRA) dan seluruh rakyat Aceh agar tahun 2012 menjadi tahun yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Banyak program pemerintah yang telah menjadi pondasi di tahun 2011 sudah seharusnya di teruskan dan ditingkatkan kuwalitasnya. Karena Aceh merupakan daerah yang secara geografis memiliki lahan pertanian yang cukup luas dengan 70 persen petani, maka kami berharap pemerintah Aceh meluncurkan program agro-indutri sekaligus sebagai upaya mengentaskan angka penganguran di Aceh dan meghapus kemiskinan.</p>
<p>Bagi DPRA kita mengharapkan untuk bisa membuat daftar pembahasan qanun prioritas yang akan di bahas di tahun 2012. Selain itu PRA berharap kepada DPRA untuk bisa memaksimalkan tugasnya.</p>
<p>Akhirnya, Partai Rakyat Aceh (PRA) mengajak kepada seluruh rakyat Aceh untuk dapat berpikir jernih dalam usaha menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi rakyat Aceh. Proses politik yang sedang berlangsung harus disikapsi secara bijaksana, agar rakyat Aceh tidak terjebak lagi kedalam konflik kekerasan, yang telah mensengsarakan rakyat Aceh. Mari kita Selamatkan Demokrasi, Teruskan Aceh Damai dan Makmur.*catatan akhir tahun PRA tahun 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maarifsyahed.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maarifsyahed.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maarifsyahed.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maarifsyahed.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maarifsyahed.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maarifsyahed.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maarifsyahed.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maarifsyahed.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maarifsyahed.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maarifsyahed.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maarifsyahed.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maarifsyahed.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maarifsyahed.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maarifsyahed.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maarifsyahed.wordpress.com&amp;blog=2233691&amp;post=117&amp;subd=maarifsyahed&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maarifsyahed.wordpress.com/2011/12/30/selamatkan-demokrasi-teruskan-aceh-damai-dan-makmur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b5a9630995a96d0b2e286493c556087?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">maarifsyahed</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://maarifsyahed.files.wordpress.com/2011/12/15316_1405605270782_1551911796_31040421_7005308_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Generasi muda partai Rakyat Aceh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jaminan Kesehatan Aceh, Untuk Aceh Damai dan Makmur</title>
		<link>http://maarifsyahed.wordpress.com/2011/12/26/jaminan-kesehatan-aceh-untuk-aceh-damai-dan-makmur/</link>
		<comments>http://maarifsyahed.wordpress.com/2011/12/26/jaminan-kesehatan-aceh-untuk-aceh-damai-dan-makmur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 04:51:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maarifsyahed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maarifsyahed.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Maarif Syahed Langkah strategis untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, dengan menjamin akses pelayanan kesehatan yang gratis dan berkualitas. Ini sebuah pilihan bijaksana Pemerintah Irwandi Yusuf. Menjamin kesehatan yang layak sebagai hak dasar rakyat itu dimanahkan oleh konsitusi. Amanah itu tertulis dalam undang-undang dasar 1945, Pasal 28 H Ayat 1 berbunyi: setiap penduduk berhak atas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maarifsyahed.wordpress.com&amp;blog=2233691&amp;post=105&amp;subd=maarifsyahed&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Maarif Syahed</p>
<p style="text-align:right;"><strong><em>Langkah strategis untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, dengan menjamin akses pelayanan kesehatan yang gratis dan berkualitas. Ini sebuah pilihan bijaksana Pemerintah Irwandi Yusuf.</em></strong></p>
<p>Menjamin kesehatan yang layak sebagai hak dasar rakyat itu dimanahkan oleh konsitusi. Amanah itu tertulis dalam undang-undang dasar 1945, Pasal 28 H Ayat 1 berbunyi: setiap penduduk berhak atas pelayanan kesehatan. Sementara pada Pasal 34 ayat 3 berbunyi: negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas kesehatan yang layak.<span id="more-105"></span></p>
<p>Untuk menghindari sukjektifisme, sebelum kita membicarakan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) sebagai program yang telah membuka mata propinsi-propinsi lain di indonesia&#8211;<em>Pemda Menado, Pemda Sulawesi Selatan dan DPRD Garut—</em>mari kita lihat dulu fakta-fakta pelayanan kesehatan secara nasional.  Ini kenyataanya, secara umum di Indonesia, sampai saat ini kesenjangan rakyat yang dapat  mengakses pengobatan secara layak persentasenya masih sangan tinggi.</p>
<p>Sebaliknya kesehatan di Negeri ini justru masih menjadi bisnis yang paling menguntungkan bagi pihak-pihak swasta, yang tidak sama sekali peduli dengan peningkatan indeks kesehatan masyrakat. Semua kita memahami keadaan ini, orang-orang miskin di Negeri ini bahkan tidak memiliki keberanian untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah-rumah sakit yang berkualitas milik swasta.</p>
<p>Dalam Laporan Word  Healt Organitation (WHO)  pada tahun 2005, menunjukkan bahwa untuk setiap penduduk Indonesia, pemerintahn hanya mengalokasikan US$ 4 (Rp. 35.000) per jiwa per tahun untuk sector kesehatan. Sebagai perbandingan yang sederhana saja, Negeri jiran Malaysia, mengalokasikan US $ 77 (Rp. 654.000.) per tahun per kapita.</p>
<p>Itu terjadi, bukan karena jumlah penduduk di Indonesia yang lebih banyak. Secara umum, walaupun jumlah penduduknya terbanyak di Asia Tenggara, alokasi anggarannya dihitung berdasarkan persen  PDB dan APBN. Dimana hal ini masih terhitung paling rendah di wilayah yang sama.</p>
<p>Di Negara miskin seperti Indonesia, dimana akses terhadap kesehatan masih mahal dan langka, pemerintah nya justru  mengalokasikan anggaran pembayaran hutang tujuh kali lipat lebih besar dari anggaran kesehatan untuk rakyatnya.</p>
<p>Saat ini jumlah dokter di Indonesia mencapai 70 ribu orang. Yang terdiri dari dokter umum 50 ribu orang (1 dokter per 4200 penduduk), dan dokter spesialis 20 ribu orang ( 1 dokter per 10.500 penduduk). Lulusan dokter dari 52 fakultas kedokteran hanya 5000 orang pertahun.</p>
<p>Secara umum harga obat obatan di Indonesia masih sangat tinggi, bahkan termasuk yang tertinggi di asia. Harga obat obatan diindonesia kurang lebih tiga kali lipat harga obat obatan di Cina dan India. Tingginya harga ini menyebabkan pengeluaran rakyat untuk obat obatan dapat mencapai 40% dari total biaya perawatan kesehatan. Padahal disisi lain kebutuhan obat obatan terus meningkat didalam negri. Hal hal yang menyebabkan tingginya harga obat disebabkan lemahnya industri farmasi nasional, selaian karena monopolistiknya korporasi korporasi farmasi international dalam pasar obat dalam negri, hal itu disebabkan minimnya perhatian pemerintah dan tingginya ketergantungan pada bahan baku impor.</p>
<p>Masih diskriminatifnya akses pelayanan kesehatan, sudah menjadi rahasia umum. Jika pelayanan kesehatan tidak dapat diakses secara merata dan mudah oleh rakyat miskin, baik di kota maupun di desa itu hal yang biasa di negri ini. Biaya kesehatan tinggi sementara tingkat perekonomian masyarakat yang masih sangat rendah, itulah potret kesehatan di Indonesia.</p>
<p><strong>JKA Langkah Strategis Menuju Aceh Sejahtera </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sejak 1 Juni 2010 di Aceh, dengan semangat menjunjung tinggi Hak-hak Dasar Rakyat,  pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Inrwandi Yusuf, telah dengan berani meluncurkan program pengobatan gratis kepada seluruh rakyat Aceh untuk semua jenis penyakit dan berlaku untuk semua kelas sosial.</p>
<p>Kebijakan pemerintahan Aceh yang strategis ini, telah membesarkan harapan rakyat untuk dapat meningkatkan kesejahteraan. Sebelumnya banyak kalangan mencibir, namun pemerintah Aceh telah menunjukkan bukti-bukti pelayanan kesehatan gratis untuk rakyat ini akan dapat mendorong percepatan peningkatan pendapatan rakyat.</p>
<p>Dua puluh dua dari 23 negara maju di dunia ini, memiliki sistem pembiayaan pelayanan kesehatan untuk cakupan universal. Satu-satunya negara maju yang tidak memiliki playanan kesehatan universal hanyalah Amirika Serikat. Dengan Partai Demokrat-nya Barack Obama yang menjadi presiden kulit hitam pertama di Amirika yang dikenal reformis tersebut, baru pada 21 Maret 2010 mampu meyakinkan <em>House of Representatives</em> (Dewan Perwakilan Rakyat) AS untuk mengesahkan RUU Reformasi Kesehatan yang diusulkan. AS baru akan menjalankan pelayanan kesehatan universal mulai 2014 dengan menggunakan sistem mandat asuransi.</p>
<p>Setelah DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) menyetujui alokasi dana JKA yang diusulkan pemerintah Aceh untuk bulan Juni sampai Desember 2010 sebesar 241,9 miliyar, Aceh telah menjadi bagian dari negara-negara yang memprioritaskan jaminan kesehatan rakyat untuk mempercepat upaya proses kesejahteraan. Anggaran yang diusul Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf,  dalam RAPBA 2010 nilainya mencapai Rp 550 miliar.</p>
<p>Pagu dana JKA itu telah menyedot 70 persen anggaran untuk bidang kesehatan Aceh yang pada tahun ini dialokasikan Rp 776,9 miliar. Pointnya, program JKA tersebut telah menempatkan Aceh sejajar dengan 22 negara lain yang memiliki jaminan kesehatan universal bagi rakyatnya. Karena itu, a<strong>tas kiprahnya dalam meningkatkan mutu kesehatan di wilayahnya, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf memperoleh penghargaan tertinggi dari Kementerian Kesehatan berupa &#8220;Ksatria Bakti Husada.&#8221;</strong></p>
<p>Pemerintah Aceh, membangun landasan memberikan hak rakyat  untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas berdasrkan Undang-Undang Dasar (UUD)’45 pasal 28 ayat (1) dan Undang-Undang Pemerintah Aceh (UU-PA) No 11 tahun 2006 pada yang termaktub dalam Pasal 224, Pasal 225, dan Pasal 226 yaitu kewajiban Pemerintah Aceh memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada penduduk terutama penduduk miskin, anak yatim, dan terlantar.</p>
<p>Dari hasil sensus tahun 2010 sebanyak jumlah penduduk Aceh 4.486.570. Data ini menunjukkan penambahan jumlah penduduk dibandingkan jumlah penduduk tahun 2008, pada saat JKA direncanakan, berjumlah 4.371.018 jiwa. Rencana pelaksanaan program JKA ini sebanranya telah diwacanakan untuk dilaksanakan pada tahun 2008 lalu. Pada saat itu, dewan belum menyetujui, dengan alasan masih banyak program yang lebih mendesak. Alasan mendasar peluncuran program JKA itu, menurut Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, karena masih ada sekitar 1 juta jiwa yang tidak memiliki asuransi kesehatan.</p>
<p>Upaya pemerintah menjamin penduduk miskin dan kurang mampu melalui program Jamkesmas baru mencapai 61% dengan obat-obatan dan layanan jaminan yang terbatas sehingga tidak membebaskan penduduk miskin dan kurang mampu dari kewajiban membayar.</p>
<p>Sisanya ada 29% penduduk Aceh yang tidak memiliki jaminan sama sekali, meskipun sebagian dari mereka mampu membayar biaya berobat yang relatif murah terutama untuk rawat jalan,  namun sebagian besar mereka kewalahan membayar biaya rawat inap di atas kemampuan ekonominya.</p>
<p>Pun begitu, data statistik kesehatan Aceh sebelum JKA di berlakukan menunjukkan keadaan yang buruk dibandingkan rata-rata nasional, pada akhir tahun 2009 angka kematian bayi Aceh 40 per 1000 angka kelahiran, lebih tinggi rat-rata nasional 37 per 1000 angka kelahiran. Angka kematian ibu melahirkan  sebesar 237 per 100.000 juga diatas rata-rata nasional sebesar 228 per 100.000 angka kelahiran. Angka harapan hidup penduduk Aceh 68, 3 tahun. Sementara indek pembangunan manusia aceh berada pada level 4. Balita yang kekurangan nutrisi mencapai 19,6 % dan anak yang mengalami gizi buruk mencapai angka 26%.</p>
<p>Karena itu, program JKA memberikan perhatian khusus pada kesehatan ibu hamil dan bayi, selama proses menjelang kelahiran,  saat persalinan, dan pascapersalinan  atau Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP). JKA membayar jasa pelayanan kesehatan ibu hamil (<em>antenatal care</em>), biaya persalinan, dan juga pelayanan kesehatan pascapersalinan (<em>post antenatal care</em>) sebesar Rp 550.000/kasus. Sejak JKA dilaksanakan pada 1 Juni 2010 hingga 31 Desember 2010, ibu hamil dan persalinan yang telah mendapat manfaat jaminan JKA mencapai 7.859 proses persalinan.</p>
<p>Program JKA menjadi satu terobosan penting yang akan menjadi awal dari proses mewujudkan kesejahteraan rakyat Aceh.  Sederhananya, masyarakat Aceh yang sakit tak perlu lagi panic memikirkan uang untuk berobat, apalagi sampai menjual harta benda untuk membayar biaya rumah sakit. Setiap rakyat Aceh hanya perlu menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan atau Kartu Keluarga (KK), mereka dapat memeroleh pelayanan kesehatan secara gratis di rumah-rumah sakit dan puskesmas.</p>
<p>Dengan biaya kesehatan yang sudah di tangung sepenuhnya oleh pemerintah itu, secara otomatis rakyat dapat mengalihkan dana kesehatanya untuk menambah modal produksi ekonominnya.</p>
<p>Program JKA sebagai jawaban atas buruknya kondisi kesehatan di Aceh merupakan strategi jitu pemerintahan Aceh. Tak kurang dari 30 % dari 4,3 juta jiwa rakyat Aceh yang mutlak membutuhkan jaminan kesehatan tersebut segera mulai teratasi.</p>
<p>Pun begitu, efek ekonomi dari program JKA secara kasat mata memang belum terlihat dalam bentuk rincian angka-angka peningkatan pendapatan ekonomi rakyat. Hal itu disebabkan investasi sector kesehatan merupakan investasi jangka panjang, yang ukuran-ukuran peningkatanya baru dapat dilihat pada hitangan tahun. Selain itu, tanpa di barengi kebijakan pro rakyat lainya, jaminan kesehatan ini memang tidak serta merta mampu mensejahterakan rakyat Aceh dalam waktu singkat, namun jaminan kesehatan rakyat ini dapat menjadi factor pendorong percepatan pendapatan ekonomi rakyat.</p>
<p>Pemerintahan Aceh dibawah kepemimpinan Gubernur Irwandi Yusuf, dengan program JKA ini telah mampu mendongkrak tingkat keercayaan rakyat Aceh terhadap pemerintah yang dipilih secara langsung. Hal ini suatu kemajuan yang perlu digaris bawahi ditengah rakyat yang apatis terhadap kekuasan pemerintah pada masa lalu yang tidak pernah memberi jaminan harapan kesejahteraan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maarifsyahed.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maarifsyahed.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maarifsyahed.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maarifsyahed.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maarifsyahed.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maarifsyahed.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maarifsyahed.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maarifsyahed.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maarifsyahed.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maarifsyahed.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maarifsyahed.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maarifsyahed.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maarifsyahed.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maarifsyahed.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maarifsyahed.wordpress.com&amp;blog=2233691&amp;post=105&amp;subd=maarifsyahed&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maarifsyahed.wordpress.com/2011/12/26/jaminan-kesehatan-aceh-untuk-aceh-damai-dan-makmur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b5a9630995a96d0b2e286493c556087?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">maarifsyahed</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
