Hari itu Juma’t 2010.
Pagi itu saya datang, sesuai rencana semula saya menemui kawan dekat saya. Sudah tiga tahun ini kami tidak sempat saling bertemu, sudah sekian lama saya agendakan, sekian lama baru saya mendapatkan nomer telepon genggamnya.
Dia mengabarkan kepada saya dirinya sedang bertugas di RSJ. Dan saya menemuinya, ia menunggu didepan pintu RSJ itu, tak lama kemudian ia mengajak saya menemui satu demi satu orang-orang di taman. Sembari memberi informasi mengenai keadaan pasien disana.
Dirinya menjelaskan. masalah yang kerap terjadi pada malam hari di RSJ itu adalah masturbasi. Agak mengherankan memang bagi saya, para pasien secara rutin diberi obat-obatan penenang yang memancing kantuk mudah datang, tapi obat ini anehnya tidak berefek pada alat vital mereka.
Fenomena ini cukup meresahkan. Para pasien secara berulang mengutarakan ingin kawin. Saya bisa paham desakan kebutuhan ini. Apalagi pasien sakit jiwa sangat lekat dengan masalah mengontrol impuls. Yang bisa mengalihkan desakan biologis ini mungkin cuma rokok. Maka tak heran mulut mereka ibarat cerobong asap. Bahkan mereka tak segan mengais tong sampah demi mendapat potongan kertas yang kemudian mereka linting bersama sisa puntung.
Bila tak di beri, mereka bisa menceracau, memaki-maki, mengancam akan membunuh, bahkan berlaku agresi. Kalo sudah begini tak ada cara selain mengurung mereka dalam kamar berjeruji , sambil menunggu pemberian obat berikutnya. Para petugas berharap mereka bisa memberi solusi bagaimana menyalurkan kebutuhan biologis pasien secara normal. “Pe-er besar buat mereka” kata teman saya tadi. Katanya lagi, saya memahami kebutuhan biologis ini pula yang kadang mengaburkan stimulus penyebab pasien di rawat di RS. Karena bila diajak bicara, orientasi mereka berkisar seputar pacar, sakit hati sama pacar, pingin kawin, ga punya duit untuk kawin, menurutnya.
Saya terus mencoba menggali dengan pertanyaan-pertanyaan mendalam sampai saya harus menemukan inti masalahnya.
Beralih pada pasien lain, kali ini pasien pecemburu berat. Ia bergelung di tempat tidur. Tidak mau bergabung dengan yang lain. Tidak menyahut ketika di panggil. Menurut kawan saya tadi, mesti diberi pengertian pada pasien tersebut, bahwa temannya juga ingin mendapat kesempatan ngobrol. Maka saya mengikuti perintah teman saya itu dengan mengatakan seperti yang di ajarkannya. Ternyata benar, pasien pencemburu tadi mengangguk dan kembali ceria.
Kami terus berjalan, berpindah keruang yan lainnya lagi, kali ini pasien baru, kasusnya lebih berat dari yang lain. Dia beberapa kali mencoba bunuh diri, dari mulai membakar diri, gantung diri, mencekik lehernya sendiri dan beberapa tindakan lain yang bisa mencelakakan dirinya sendiri.
Orangnya pendiam. Raut wajahnya tampak ramah. Senyemnya manis, menurut saya, teman saya tak henti-hentinya mewanti-wanti agar waspada terhadap pasien yang pendiam, karena tindakannya sulit di duga. Berbeda dengan pasien yang “ramai”, paling banter mereka hanya mengacau. Justru pasien yang pendiam, terlihat tenang dan anteng, mereka bisa dengan tiba-tiba melempar gelas ke muka kita, menempelkan rokok menyala ke ubun-ubunnya, bahkan kabarnya pernah ada yang menggorok leher teman sekamarnya, saya bergidik, cerita kenyataan itu menyeramkan bagi saya. Untuk mendekatinya saya benar-benar harus menata emosi sebaik mungkin.
Saya harus terlihat rileks, luwes, sekaligus memberi kesan bahwa saya memiliki power. Saya menyiapkan tisu basah yang sesekali harus saya hirup aromanya, untuk menetralisir aroma lain yang muncul dari para pasien. Sekali ini, dan untuk pertama kalinya saya betul-betul berterima kasih pada rokok, karena aromanya bisa menyerap bau khas pasien yang lumayan menyengat… hehhe
Tak terasa, hari sudah menjelang sore, teman saya tadi setengah memaksa mengatakan “tanggung, masih ada satu pasien lagi yang kronis, kamu sebaiknya melihatnya” katanya.
Pasien kronis itu, merapat duduk si samping saya. Ikut menimpali pembicaraan saya dengan pasien yang tengah saya dekati . Naluri saya langsung mengisyaratkan kewaspadaan tingkat tinggi. Di kaosnya tertulis menyolok, “pemburu”. Tangan kirinya membelit tasbih.
Mulutnya sibuk komat-kamit melantunkan zikir. Air sisa wudhunya masih bercucuran dari wajahnya. Untuk mengalihkan perhatinyanya ia harus di beri kertas, untuk seakan menulis riwayat hidupnya, sekejab saya mengambil sebuah kertas dan pena dari tas, teman saya menjelaskan penyebab ia masuk perawatan di RSJ itu, “nembak orang” orang katanya.
Secara fisik memang tampilannya seperti tentara terlatih. Badannya lumayan kekar. Sangat bertolak belakang dengan tas barbie berwarna pink tua yang ia sandang.
Saya mulai merasakan lelah, kemudian saya berjalan kesebuah tempat yang tertulis “cafetaria”. Karena sudah terlalu haus, beberapa saat saya tak lagi memperdulikan teman saya lagi, saya dengan jelas melihat keenggananya memasuki “cafetaria” itu, saya masih tak perduli meski saya melihat ada raut takut di wajahnya.
Saya mengambil kursi tepat di belakang pintu masuk, sehingga saya dapat leluasa memandang pemandangan luar “cafetaria” itu.
Sebelum sempat saya menikmati pesanan minuman saya, dari kejauhan saya melihat teman saya tadi sedang dipegang secara kasar oleh dua laki laki berpakaian putih. Saya tertegun menyaksikan pemandangan itu, keterkejutan saya memaksa kai-kaki saya berlari mengejar mereka, begitu berdekatan tanpa banyak berpikir menarik tangan salah satu dari mereka. “Lepaskan Dia!”. Kedua orang itu dengan tatapan heran balik bertanya, “kamu siapa, apa hubungan kamu dengan dia?”, saya hanya bisa mengerlitkan alis saya tanpa sengaja. Dan… oh.. Tuhan…. ternyata teman saya adalah bagian dari pasien di RSJ ini.
Lunglai seluruh tubuh saya, saya rasakan tulang tulang saya sulit menahan beban tubuh saya, betapa lemas seluruh persendianku menghadapi kenyataan ini.
Ternyata keadaan keluarga menjadikan dia menjadi penghuni RSJ ini. Dimana kedua orang tuanya setelah mereka berpisah dan menjadikanya hidup terombang ambing antara mama dan papanya.
Masih menjadi tanda tanya besar dalam benak saya, dimana letak kurang warasnya teman saya ini. Ia menjelaskan semuanya nyaris begitu sempurna sebagai seorang dokter di RSJ. Saat saya memilih untuk menulis catatan ini begitu banyak hal yang tak terduga-duga.
Rasanya saya butuh katarsis…
ANNA YANNE
*Anna Yanne, adalah seorang teman yang saya kenal hanya melalui jejaring sosial. Saya tidak banyak mengetahui kehidupanya, begitu juga yanne terhadap saya, saya hanya memangilnya Yanne, saya dan Yanne sering terlibat pembicaraan tentang berbagaihal menyangkut kehidupan. Saya mempublikasi tulisan ini di blogg saya atas dasar permintaanya sekitar satu setengah tahun yang lalu setelah ia mengirimnya ke email saya. Sebelumnya saya tidak sempat mengedit tulisan Yanne ini atas permintaanya saya langsung memuatnya saja, sebelum saya mendapat berita bahwa Yanne pergi untuk selamanya pada satu kecelakaan lalu lintas sekitar 10 hari yang lalu. Dan tulisan ini saya anggap sebagai peningalan Anna Yanne kepada saya. Selamat jalan Yanne….