Aku sungguh ingin mengenal seorang yang kukagumi, perempuan yang modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya. (1)
Sebagai perempuan jawa, surat Kartini kepada Stella itu menunjukkan imajinasi Kartini pada sosok perempuan Jawa yang seharusnya.
Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904) ingin mengungkapkan pikirannya, seperti sosok perempuan yang independent dan moderen tentu saja karena Kartini saat itu berada dalam lingkungan yang menindas perempuan, tidak seperti yang ada dalam pikirannya. Katini ingin lahir sebagai perempuan yang melangkah dengan percaya diri, ceria dan kuat dalam prinsip.
Kartini berpikir, pikirannya itu ingin dilekatkan pada tubuhnya sendiri, ia memulai membangun kepercayaan dirinya dengan menuliskan pikiran-pikiranya kepada Stella sahabat Eropanya.
Oposisi perempuan tradisional Jawa, menjadi awal tema yang ia pilih untuk memulai tulisanya. Bagamana mungkin perempuan-perempuan ini menjadi percaya diri dan penuh pesona, bila berjalan saja harus menunduk, atau bahkan setengah merangkak, begitu Kartini menuliskan suratnya kepada Stella.
Disini, perempuan juga tidak mungkin bisa ceria, bila tingi rendah nada bicaranya juga harus diatur, pelan bahkan nyaris seperti berbisik. Kenyataan yang ia hadapi dan imajinasinya pada sosok perempuan modern, begitu berkontradiksi dengan kenyataan perempuan tradisional yang terikat kuat pada budaya patriarki.
Ia secara utuh menyadari, agar terlepas dari ikatan tradisi yang membelenggunya sebagai perempuan Jawa, ia harus merubah cara pandang orang tuanya terhadap pendidikan. Kartini menyampaikan pendapatnya bahwa dirinya harus terus mendapatkan pendidikan seperti saudara-saudara lelakinya yang mengenyam pendidikan tinggi. Ia ingin lebih sering bisa keluar dari rumahnya.
Sedangkan, kami anak-anak perempuan, diikat oleh adat dan kebiasan, hanya boleh sedikit saja mencicipi kemajuan, terutama dalam bidang pendidikan. Kamu tahu, sesuai dengan adat di negeriku, perempuan tidak diperbolehkan keluar rumah. (4)
Sikapnya itu menunjukkan kemarahannya pada adat yang mengikatnya, kebiasaan itu membuat perempuan pribumi tidak bebas menghirup udara “kebebasan”, bebas menentukan pilihan dalam hidupnya.
Pendidikan menurutnya, adalah hal penting yang harus dipenuhi untuk menghancurkan terbelengunnya perempuan-perempuan dimatanya. Pendidikan pulalah yang menyadarkan Kartini pada pemahaman bahwa pendidikan dapat membangun moralitas bangsanya.
Sikapnya menunjukkan pemberontakan pada adat timur yang mengharuskan kaumnya tunduk pada aturan-aturan adat yang berlaku. Kartini secara terang-terangan menyatakan kebebasan pikirannya pada Stella melalui surat yang ditulisnya. Ia tak meragukan Stella menolak pikiranya, sebagai perempuan Eropa, Stella dan kebebasannya tentu saja lebih dapat menerima keinginan Kartini pada emansipasi perempuan.
Seperti aktifis feminis Simone De Beauvoir dalam bukunya Second Sex, saat itu Kartini berpikir bahwa tak mudah bagi kaumnya untuk menentukan secara mandiri jalan dalam hidupnya.
Kemana pun mereka melangkah, garis akhir selalu berwujud pada pernikahan; yang artinya sama dengan mengakui dominasi laki-laki. (xxix)
Pikiran De Beauvoir, cukup menjelaskan apa yang ditulis Kartini pada pemahamannya akan nasib perempuan pada saat itu.
Aku dikunci di dalam rumah dan benar-benar terpisah dari dunia luar, dunia yang tak mungkin aku kunjungi kecuali jika aku dipinang oleh seorang laki-laki, seorang asing yang tak pernah kukenal sebelumnya. (4)
Menikah… oh… kata “kutukan” saja masih terlalu halus untuk mewakilinya. Bagaimana bisa merupakan ibadah jika semua peraturan dan norma dibuat sedemikian untuk kekuasaan laki-laki dan mengabaikan kemenuasiaan perempuan? (6)
Cara pandang Kartini pada budaya patriarki sangat mendominasi perjalanan hidupannya, terlebih bagi kaum perempuan yang terus menerus diperlakukan sebagai liyan dan kaum inferior.
Perempuan seperi tidak dianggap, tubuhnya hanya sebagai pelengkap pertahanan tubuh laki-laki. Seolah perempuan diciptakan untuk memenuhi syarat-syarat pernikahan dan membahagiakan kaum yang lebih superior.
Perempuan tidak usah memikirkan masa depannya dan ikut campur memikirkan, menyusun peradaban bangsanya. Karena itu perempuan diposisikan tak perlu mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
Kartini menyadari dunianya sebagai dunia maskulin secara keseluruhan, mereka membentuk dan mengaturnya.
Menyadari semangat nasionalismenya begitu kuat, sebagai warga negara yang berdaulat, Kartini ia tak ingin mati bersama persoalan emansipasi perempuan seperti suratnya kepada Stella saja, ide-ide nasionalismenyapun ia nyalakan seterang-terangnya.
Sebagai perempuan Timur, Kartini mengharapkan bangsanya berubah, ia menjadikan Barat sebagai ukuranya.
Pun begitu, pemikiran emansipasinya saat itu hanya berani ia ungungkapkan pada Stella sahabat Eropanya melalui surat-surat yang berbentuk epistolerik.
Terlihat dari ide-ide Kartini yang ditulisnya dalam bentuk surat, seperti ada keterbatasan dalam menuangkan pemikirannya kala itu. Kenyataanya memang begitu, perempuan merupakan kaum yang dinomorduakan, suaranya dibungkam dalam gagasan-gagasan kritis.
Sejanak saya berimajinasi pada masa yang telah berlalu itu, seorang Kartini yang senantiasa ingin berada pada dunia yang berperadaban moderent, dimana perempuan dapat ”terbang bebas”, padahal saat itu seorang Kartini juga sedang menyadari sepenuhnya bahwa dirinya berada dalam ruang lingkup budaya patriarki yang nyata. Dunia dimana sistem sosial dan budayanya mengikat erat kehidupannya. Dunia dimana, kaum perempuan harus tunduk pada sistem patriarki.
By: Suci Andari